Cerita BUDI BADU

Aku bernama Budi Badu! Aku adalah seorang terpelajar.Sarjana lulusan universitas tinggi teknik terkenal di Bandung. Lulus dengan predikat cum laude, dan mendapat tawaran melanjutkan studi master di Eropa. Bulan depan aku akan berangkat ke sana. Ke negara impianku, tempat yang menjunjung tinggi pluralisme dengan pendekatan humanis di setiap lini kehidupannya.

Namun, beberapa hal remeh temeh masih harus aku bereskan sebelum keberangkatan. Bolak-balik ke kedutaan negara tujuannku, dan memulai komunikasi dengan orang-orang negara mimpiku itu. Dagup jantung mulai berpacu, rasa seperti orang yang akan pulang kampung. Bertemu leluhur dan keluarga yang sudah lama ditinggalkan.

Mungkin sebenarnya aku kelahiran sana, namun sesuatu kejadian membuat aku terbawa ke Indonesia dan mau tak mau menjadi Indonesia, bisik hatiku lirih.

Cih…!!!, tak lama lagi akan aku tinggalkan negara yang memuakkan ini. Penuh intrik dan ketidakwajaran. Terlalu muak aku menonton berita televisi, terlalu letih membolak balik halaman koran dan majalah politik. Makin lama durasi eksklusif di tivi semakin panjang, makin lama halaman koran dan majalah semakin tebal. Makin banyak rubrik selusur dan investigasi di sana.

Barangkali itu jadi indikasi semakin banyaknya kebobrokan di negeri yang aku tinggali sekarang, jadi mereka butuh lebih banyak slot waktu dan halaman untuk menulisnya.

Persetan itu semua!!

Sebentar lagi aku akan pergi,dan aku sudah tidak peduli lagi. Mencari keadilan untuk diriku sendiri, keadilan untuk masa depanku. keadilan untuk posisi layak bagi orang dengan kemampuan sepertiku. Keadilan yang tidak mungkin aku dapat di sini. Karena di sini, keadilan hanya seharga recehan dan kekuatan kumpulan orang di situs jejaring sosial.

Buat apa hukum kalau begitu, buat apa pemerintah kalau begitu, dan buat apa Tuhan kalau begitu. Buang saja aturan, bubarkan saja pemerintahan, dan hapus saja sila pertama itu. Semua tak membantu, karena setiap orang sudah pegangan masing-masing yang tidak mau direcoki.

Nah, lagi-lagi mereka berlaku aneh. Gerombolan motor yang dikendarai orang-orang berpeci putih dan berbaju gamis itu. Menghalangi jalan yang harus aku lewati. Sudah tahu itu jalan umum, mereka buat seperti jalan kelompok mereka sendiri. Sudah begitu, tidak memakai helm!!

Anjing, mungkin mereka pikir Tuhan mereka yang bangun jalan ini untuk mereka. mungkin mereka pikir peci itu akan kuat saat beradu dengan aspal, dan mungkin mereka pikir kalau mereka tabrakan dan mati, mereka akan berstatus mati syahid.

Entahlah..

Lega akhirnya. Ini hari keberangkatanku, hari aku ‘pulang kampung’.

Hanya sendiri perjalananku ke bandara. Ayahku tidak bisa mengantar, karena ia ikut terseret dalam kasus pajak baru-baru ini dan membuat ia tidak mempunyai ruang gerak yang cukup lega bahkan untuk sekedar mengantaku. Ibuku mengalami sedikit tekanan mental dalam dirinya, ia tidak kuat keluar rumah karena malu dengan tekanan dari lingkungan. Dan aku, pergi sekarang! Mungkin juga melarikan diri dari ketidaknyamanan ini.

Mungkin ada yang bilang aku anak yang tidak tahu diuntung, tidak membalas budi kepada orang tua. terserah! Aku tidak peduli dengan itu, seperti ayahku yang tidak peduli dengan keluarganya. Ia jarang di rumah, dan bahkan pernah kepergok berselingkuh dengan seoarang wanita muda di hotel oleh Ibuku.

“Mau kemana Mas?” suara sopir taksi itu mengagetkanku.

Aku masih cukup kaget dengan teguran itu, sampai ia kembali mengulangi pertanyaan yang sama. “Mau kemana Mas?” ujarnya lagi.

“Oh, mau ke Eropa Pak,” jawabku singkat.

“Wah, enak ya Mas masih muda sudah bisa ke Eropa,” tutur sopir itu dengan nada kagum terhadapku.

Aku hanya mengangguk, dan ia mengamati itu dari spion dengan senyumnya.

Sopir itu berperawakan cukup tua, aku taksir berusia sekitar 50-an. Berkulit muka keriput dengan kumis tipis. Berbadan kecil dan kurus, mungkin dengan tinggi hanya sekitar 160-an cm.

“Ke Eropa mau ngapain Mas?” tanya sopir itu lagi.

“Hm, sekolah Pak,” jawabku lagi, dengan singkat!

Hebaaat Mas, bisa sekolah ke luar negeri. Nanti kalau sudah pintar bangun negara ini Mas ya,” ujarnya sambil tersennyum.

Aku hanya menjawab dengan senyuman.

“Sekarang banyak kasus di Indonesia Mas, ini lah, itu lah. Enak zaman Soeharto dulu. Apa-apa murah, semua ada tersedia. Aman lagi,” terangnya.

Aku kembali hanya tersenyum.

“Emang kenapa mau keluar negeri sih Mas, kenapa ga sekolah di Indonesia saja?” sopir itu kembali bertanya. Seperti mengintrogasi saja!

“Di sana lebih ga  macam-macam Pak,” jawabku ringkas. Aku tahu itu hanya pertanyaan polos dari orang yang tidak setara denganku ilmunya, jadi buat apa aku harus mendebat sesuatu yang percuma.

“Wah, tapi kemarin saya nonton tivi, di eropa ada bom juga Mas. Banyak yang mati juga. Edan juga itu orang-orang bule,” timpal si sopir lagi.

“Yah, dimana-mana bisa kejadian itu Pak,” jawabku.

“Kalau begitu, negara eropa itu sama saja dengan Indonesia kita Mas ya?” tambahnya.

Aku terusik denganpemakaian kata ‘kita’ di pertanyaan sopir itu. sepengetahuanku, ‘kita’ adalah pemakain untuk dua hal sama yang sebanding. Namun, aku dan dia??? Tidak bisa dikatakan sama, paling tidak buatku!

“Beda lah Pak, orang di sana lebih berperikemanusiaan dalam menyikapi sesuatu. Lebih humanis, tidak berlindung dibalik sosok Tuhan mereka dalam melakukan suatu tidak kekerasan,” jelasku.

Aku mulai terpancing dengan pertanyaan-pertanyaan sopir itu yang provokatif dan seperti menyerang ‘kampung halamanku’.

“Bagaimana pun kultur eropa dan di sini berbeda Pak, mereka sudah memulai kehidupan lebih awal, jauh sebelum Indonesia,” tegasku lagi.

“Mereka sudah melakukan revolusi saat di sini masih sibuk saling tikam, dan hidup dengan pola pikir kedaerahannya,” terangku lagi.

“Oh, jadi bangsa kita benar-benar sudah tertinggal Mas ya, sudah sejauh itu tertinggal Mas ya?” tannyanya lagi mengharapkan jawabanku lebih lanjut.

“Iya. Bahkan mereka sudah tidak mempedulikan apa kepercayaanmu. Mereka melihat manusia dengan objektif, saling menghargai dan tenggang rasa yang kuat,” kilahku.

“Hmm…berarti jiwa luhur bangsa ‘kita’ sudah dibawa kesana juga Mas ya? Bukankah dulu bangsa ‘kita’ yang dikenal seperti itu?” ujarnya dengan nada kecewa.

Aku tak menjawab. Segera kukeluarkan selembar uang seratus ribuan dari dompet, membuka pintu, dan meningggalkan pria tua itu tanpa jawaban. Karena bagiku, jawaban itu hanya pantas ia tanyakan kepada sesamanya, orang yang pantas ia pakaiakan kata ‘kita’.

***

Advertisements

12 thoughts on “Cerita BUDI BADU

  1. hwoohh….!!! Mangstab!! *thumbs up*
    Ngambil sudut pandangnya beda euy 😀

    Lanjutkan, lanjutkan!!!!!

  2. Hmmm i just wondering, si Badu itu anaknya BA..apa SJ , hahahahaha

    Good2 arie, imajinasi lo berjiwa sosial berart gak kaya imajinasi gw yang korea2 itu, hehehe

    Like This

    1. imajinasi lo ttg cowok2 brondong korea itu juga luar biasa kok Gus. termasuk imajinasi yg liar!! hahahaha

  3. wah,,,gak nyangka banget seorang arie bisa menyampaikan kritik sosialnya lewat cerita yang menarik…
    penggambarannya juga detil..
    nice notes Rie!!!
    keep on writting deh…
    heheeee….

      1. surabaya kawaaaan… mencoba mencari sesuatu yg bukan gw, n hal baru yg ternyata bnr2 membuka mata gw tentang cara menilai hiduuup..
        btw makiin cangih ajah nih tulisannya…
        ah tau ah…siriiiiiiiik gw!!!!!

  4. mau bawel sekali lagi ya.. ;P
    1. yang gw rasa, tulisan ini nuansanya maskulin banget. ngerti kan maksudnya?
    2. nggak tau kenapa, gw nggak dapet emosinya. sorry to say ^^
    3. paragraf terakhir cukup bisa memberi efek shock
    4. “Sarjana lulusan universitas tinggi teknik terkenal di Bandung” –> apa ya? hehehe

    keep on writing rie! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s