Tulisan Terakhir

| Arieitem |

Di awal millenium, enam hari sesudah Papa meninggal, dan sekarang hanya tinggal aku dan Mama di rumah.

Mempersiapkan segala kebutuhan ‘tujuh harian’ Papa yang akan jatuh besok. Persiapan yang tidak memakan banyak energi sebenarnya. Tapi terasa berat karena hanya ini energi tersisa yang aku dan Mama punyai.

Meskipun lelah, tapi aku merasa perlahan beban dan kesedihan itu mulai pergi. Beringsut dari pundak aku dan Mama. Semakin besar keyakinan kami bahwa Papa akan tenang menghadap Tuhannya,  Tuhan yang sama dengan aku dan Mama, Tuhan dalam Islam, Allah SWT.

Semasa hidupnya, Papa adalah seorang dengan prinsip kuat, hanya memercayai apa yang ia yakini, termasuk mengenai Ketuhanan. Ia adalah seorang jurnalis (jurnalis kawakan menurut rekan-rekannya sesama jurnalis) disiplin, keras hati, dan idealis, hal yang sering menjadi pemicu perdebatannya dengan Mama dalam memandang hidup.

Mama pernah bercerita, hanya untuk menempatkan sebuah televisi di dalam rumah, ia harus melalui perdebatan panjang karena Papa tidak percaya dengan benda yang bernama televisi itu. Benda itu hanya sebuah sampah berbentuk kotak yang tidak memberikan ilmu baginya. Benda itu hanya berisi hiburan yang tidak mendidik dan menimbulkan kecanduan terhadap hal-hal cetek dan dangkal. Ia lebih percaya pada kekuatan membaca, buku dan benda berisi tulilsan-tulisan.

Untungnya itu terjadi saat aku masih kecil, saat aku belum mengerti untuk apa mereka memperdebatkan hal itu. Setelah cukup dewasa, sempat terlintas di pikiranku, barangkali Papa adalah sesosok makhluk dari zaman purba yang tersesat masuk ke zaman modern lewat mesin waktu. Ia berasal dari zaman dimana tulisan baru dikenal sehingga ia sangat tergila-gila dengan penemuan baru itu.

Entahlah, tapi mungkin benar kata salah satu teman kepadaku, idealisme itu tidak membunuhmu, tapi membunuh orang-orang yang ada di sekitarmu.

Mama adalah muslimah yang taat, paling tidak sepengetahuanku. Meskipun tidak berkerudung, ia tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu, mengaji, zikir, dan ibadah lainnya. Itu juga yang ia terapkan kepadaku. Aku lebih serupa Mama dalam hal ini.

Papa?? Setahuku, di Kartu tanda penduduknya tertulis ‘Islam’. Tapi entahlah dalam pelaksanaannya.

Saat cukup dewasa dan mengerti, aku sempat bertanya tentang hal itu, dan ia menjawab.

“Tuhan itu hanya hal pelengkap. Mempersempit pandangan manusia dalam memandang kebaikan itu secara menyeluruh,” ujar Papa saat itu.

“Lalu apa atau siapa Tuhan Papa?” tanyaku.

“Tuhan itu ada di dalam hati. Di dalam diri masing-masing manusia sudah ada. Jadi tak perlu penyeragaman dalam mendefinisikan Tuhan,” terang Papa.

Seingatku, itu terakhir kali aku bertanya tentang Tuhan kepada Papa. Selebihnya, semua mengalir begitu saja. Aku dan Mama dengan Tuhan kami, dan Papa dengan keyakinannya. Tidak ada lagi perdebatan, tidak ada saling pemaksaan, dan pembahasan tentang agama, setidaknya sampai saat Papa memulai pergulatan melawan penyakitnya.

Beberapa kali aku melihat Mama berusaha membimbing Papa untuk mengucap syahadat ataupun kalimat Allah pada saat Papa terbaring lemah di tempat tidur. Walau tetap diam, tapi pancaran air  mukanya tidak lagi sekeras dulu.

“Mungkin hati Papa mulai melunak,” batinku saat itu.

Dan juga yang aku lihat, Mama hanya ingin perpisahan dengan orang yang ia cintai itu berisi ketenangan. Tenang buat orang yang dicinta, dan tenang buat yang mencinta.

Papa menderita stroke kurang lebih setahun lalu. Kontrolnya terhadap diri sendiri sudah tidak lagi kuat. Sudah tidak terhitung lagi berapa dokter, rumah sakit, atau pengobatan alternatif yang kami coba.

Dan sejak itu, Papa bukan lagi ‘full time jurnalist’. Hanya beberapa tulisan kecil yang bisa ia hasilkan, dan ia simpan dalam sebuah kotak berwarna hijau. Ia melarang aku dan Mama untuk membaca, atau bahkan untuk sekedar membuka kotak tersebut.

“Nanti saja kalau Papa ‘pergi’,” pesannya waktu itu.

Dan, setelah Papa pergi..

Aku buka kotak itu…

Kubaca..

Kuresapi..

Walau tulisannya sudah tidak serapih dulu, tapi isinya masih bermakna buatku. Cara ia bertutur, menganalisa, dan menuturkan masih mengingatkanku akan sosok Papa saat masih sehat dulu. Itulah kesan yang aku tangkap saat aku membuka kotak berisi tulisan-tulisan Papa saat sakit.

Perenungan hidup Papa, bagiku tulisannya bermakna seperti itu.

Dalam tulisan-tulisannya, beberapa hal yang sebelumnya tak pernah Papa bicarakan dengan kami ia sampaikan lewat tulisannya. Tak nyata memang, tapi kami tahu maksudnya.

Lewat tulisan terakhirnya itu Papa memberi gambaran kepada aku dan Mama tentang dengan cara apa dan akan kemana jika ia ‘pergi’.

Tulisan ini yang akan aku ingat dalam hidupku;

“Kalau saja aku memiliki kontrol penuh terhadap diriku, barangkali ketika aku suruh ia sembuh, ia akan langsung sembuh. Tapi tidak!

Ternyata aku tidak memiliki kuasa itu. Sesuatu di luar diriku yang memilikinya. Tidak cukup hanya hati dan kekuatan diri! Tidak cukup dan tidak berarti itu.

Dan, aku mengerti sekarang.

Aku ingin kembali, Walau mungkin sudah sangat terlambat untuk menyadarinya”.

Jakarta

12 September 1999

WM

***

Advertisements

6 thoughts on “Tulisan Terakhir

  1. Semoga almarhum diterima disisi-Nya dan segala amalannya di dunia menjadi bekal di akhirat sana. Amien ya Robbal Alamin.

  2. Ini Fiksi kan ri? singkat tapi menyentuh ri..gw akui..
    ternyata dibalik sosok seram lo masih ada sisa2 kelembutan toh..heheheh ^^v

    -bukan lagi ‘full time jurnalist’. Hanya beberapa tulisan kecil yang bisa ia hasilkan, –

    —> rasanya kok gw banget ya..belom fulltime jurnalis ( _ _”)

  3. semoga sosok si papa itu gk menjelma jd wujud ke idealisan bbrp org jurnalis termasuk km,,hehee:)

  4. busyeeeeeeeeeeeeeeeed…. makin mengasah perbendaharaan kata, permaianan kata, n menelusuri berbagai aspek yg tidak tersentuh oleh orang..
    gayaaaaaa…. seram euuuuuuy….
    siriiiiiiiiiiiiiiik gw!!!!!!

  5. hmm,,walaupun fiksi tp ckup menyentuh…
    Sosok ayah itu sbagian mirip alm om aku…
    yg gak tlalu agamis ttpi menjelang hr akhir bliau mjadi dkat dg sang khalik…

    Nice n0tes rie..
    Judulnya udah mwakili isi..
    org akan lgsg tau ttg apa..
    tp yg bkin pnasaran adlh isi surat terakhir itu..
    hoho..

  6. hey, ri. maaf baru sempet mampir sekarang.

    well, karena lu yang minta dikomenin, jangan protes klo gw bawel dan (sok) jadi kritikus sastra ;P
    1. entah kenapa gw jadi inget “mencari seikat seruni”-nya leila s. chudori. di awal, pembaca udah dihadapkan sama kematian seseorang (yang normalnya jadi klimaks), terus alurnya mundur, terus loncat maju lagi (duh, apa sih istilahnya? anak fikom pasti lebih ngerti lah). like this! 🙂
    2. cerita ini kayaknya bagus klo dibikin versi panjangnya. tokoh papa dan mama itu karakternya menarik untuk dieksplor.
    3. “idealisme itu tidak membunuhmu, tapi membunuh orang-orang yang ada di sekitarmu” –> hmm…
    4. over all, gw suka cerita ini. singkat tapi dalem. emosinya dapet.

    anyway, mampir ke blog gw juga dong! tukeran link ya! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s