Muhammad Jibril, Penafsir Mimpi yang Kontroversial

Allahuakbar…!!!

Allahuakbar…!!!

Allahuakbar…!!!

Gema takbir mengiringi derap langkah pria berbadan tambun itu menuju ruang sidang utama di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (1/6). Berjalan santai, dan tidak tergurat raut cemas ataupun khawatir di mukanya yang putih bersih.

Laksana panglima perang, ia maju tak gentar!

Hari itu ia mengenakan baju koko lengan panjang berwarna hitam dan celana kargo berwarna coklat muda dan sendal kulit. Rambutnya yang berpotongan belah tengah juga tersisir rapi seperti waktu-waktu sebelumnya.

“Awal-awal (persidangan) saya merasa takut, tapi sekarang sudah serahkan kepada Allah. Terserah mereka (jaksa) menuntut saya seperti apa, saya percaya Allah pasti bersama saya,” kata Muhammad Jibril Abdul Rahman, terdakwa tindak pidana terorisme saat ditemui sebelum pembacaan pembelaan (Pledoi) oleh kuasa hukumnya hari itu.

Bahkan, putra Abu Jibril tersebut sempat berfoto bersama Tim Pengacara Muslim dan Lembaga Bantuan Hukum Muslim (yang membantunya selama mengikuti persidangan) di pintu samping kanan ruang sidang, menunggu hakim yang memimpin sidang masuk ke ruangan. Meskipun beberapa kali menyeka keringat, namun senyum tidak pernah lepas dari wajahnya.

Sidang sendiri molor (entah beberapa jam) karena hakim, sang pemimpin sidang masih sibuk dengan agenda sidang lainnya hari itu. Saya sendiri tidak tahu pasti ada berapa sidang selain sidang Jibril yang ia pimpin hari itu. Saya pun tidak tertarik mencari tahu karena tujuan saya ke PN Jaksel hari itu memang untuk meliput sidang Jibril.

Oke, balik ke Muhammad Jibril, atau Muhammad Ricky Ardan (nama yang ada di passport yang ia pakai sewaktu pergi Umroh ke Mekkah) di persidangannya. Memang itu bukan pertama kali saya melihat sosoknya, tapi itu adalah kesempatan pertama saya berbicara langsung dengannya. Berbicara langsung degan seseorang yang diembel-embeli kata ‘TERDAKWA TINDAK PIDANA TERORISME’ di namanya!

Sebuah ‘gelar’ yang mungkin tidak dengan mudah disandang setiap orang. Bayangkan saja, siapa yang kira-kira mau diberi embel-embel teroris? (Yang bersedia, silahkan ngaceng! Eh, ngacung maksudnya, hehe).

Ia sendiri mengaku bukan teroris (bahkan menyatakan tidak sepaham dengan tindakan Noordin M.Top), melainkan seorang jurnalis yang memimpin media Islam yang fokus dalam pemberitaan tentang dunia Islam dan jihad Islam internasional. Selain itu, gaya bicaranya pun lugas khas politisi Senayan (maksudnya satu pertanyaan dibalas dengan jawaban yang panjang, hehe), dihiasi kutipan ayat Al Quran dan Hadits serta kata-kata dalam bahasa Inggris.

Di awal obrolan, ia sempat mengkoreksi pemberitaan majalah Tempo yang salah dalam menulis nama media yang ia pimpin.

“Ar Rahmah, bukan Ar Rahman. Dengan akhiran ‘Heij’, bukan ‘En’,” terangnya menirukan bunyi huruf ‘H’ di dalam bahasa Inggris.

“Ok Bang, nanti saya bilangin,” jawab saya sekenanya (padahal saya juga ga tahu mau bilang ke siapa terkait masalah itu, hehe).

Jibril mengaku bahwa ia adalah orang yang rajin membaca media cetak, bisa sekitar tujuh atau delapan media yang bisa ia baca perharinya. Mengikuti pemberitaan tentang dirinya, atau membaca informasi lainnya (Pihak Kepolisian mengaku menemukan sebuah majalah porno di ruangan Jibril pada saat diperiksa, padahal menurut Jibril, yang dimaksud majalah porno oleh Polisi itu adalah majalah pria ‘Esquire’).

Saat saya bertanya apakah seorang Muhammad Jibril juga membaca Playboy, ia hanya menjawab dengan candaan.

“Playboy di sini kurang asyik (Oia, saya tekankan, ia menggunakan ‘Y’ untuk kata asik sehingga kemudian berbunyi ‘asYik’). Kalau yang luar negeri baru,” ujarnya sambil tersenyum.

Saya jadi membayangkan, kira-kira seperti apa suasana Jibril jika ia benar-benar membaca Playboy edisi luar negeri,hoho..

Oia, Ia juga sempat menanyakan nama saya, umur saya dan menanyakan apakah saya sudah berumah tangga atau belum. Yah, dan ia juga telah salah menyebut nama saya dipelafalan yang kedua. Ia memanggil saya ‘Hari’, dengan memakaikan ‘H’ sebelum ‘A’. Sebenarnya saya ingin mengkoreksi kesalahannya itu, namun saya urungkan karena saya merasa itu juga bukan hal yang penting dan bermakna untuknya, hehe.

“Arie, bukan Hari! Tanpa tambahan ‘Heij’ di depannya,” ujar saya dalam hati, membalas koreksi dia kepada saya sebelumnya.

Argghhh, mengapa huruf ‘H’ menjadi selalu jadi pertentangan kami hari itu.

Ia bercerita banyak tentang media yang ia pimpin itu, perjuangannya di usia yang (masih) 26 tahun namun sudah memimpin sebuah media, dan hal yang ingin ia perjuangkan lewat medianya itu.

“Ke depan saya berencana menyoroti bukan hanya masalah muslim di Internasional, namun juga nasional. Masih banyak muslim yang justru dihantam oleh sesama muslim lainnya di negeri ini. Jadi kalu ada yang bilang Indonesia negara demokrasi, tai’ itu. Indonesia bukan negara demokrasi,” tegasnya.

Ia juga bercerita bagaimana kemudian media yang ia pimpin itu disebut sebagai media menyuburkan tindak pidana terorisme. Ia mengaku, medianya memang rajin mempublikasikan hal mendukung umat Islam, namun sama sekali tidak ada keterkaitan dengan terorisme. Pria berjanggut itu juga menceritakan bagaimana Polisi memperlakukannya selama penyelidikan, tapi ia menolak jika saya menulis rinci perlakuan terhadp dirinya tersebut.

“Jangan ente tulis itu,” katanya sambil tersenyum.

Satu hal yang membuat saya terkejut adalah, Muhammad Jibril ternyata personal yang percaya kepada tafsir mimpi. Ia menyebut salah satu judul buku dan penulisnya yang ia jadikan rujukan tafsir mimpinya, namun saya lupa siapa penulis dan judul buku itu.

“Buku itu menafsirkan mimpi sesuai AlQuran,” tuturnya.

Ia menuturkan bagaiman dulu ia pernah bermimpi dan bercita-cita terkenal dan populer. Dan sekarang, mimpinya itu telah terwujud. Ia telah dikenal orang, walaupun pasti secara kontroversial, di tengah hingar bingar caci dan puji, di himpitan takbir dan makian. Tapi ia tidak mempermasalahkannya, karena menurutnya kontroversial itu adalah salah satu cara untuk menjadi terkenal.

“Kalau kamu ingin dikenal orang, buatlah seseuatu yang yang kontroversial,” katanya.

(arieitem)

Advertisements

6 thoughts on “Muhammad Jibril, Penafsir Mimpi yang Kontroversial

  1. woiii bung, tulisannya sudah cukup bagus. tapi jangan kebanyakan cengengesan donk (hehe, hoho, ngaceng pula, etc)!! itu mengurangi kekuatan alur beritanya (meskipun maksudnya untuk membuat suasana lebih santai dan cair, tapi jadinya kaya ga penting).
    tapi gw jadi tau sisi lain MJ (Muhammad Jibril bukan Mary Jane cuy) yang ga pernah disorot oleh media. tapi secara umum tulisan anda menarik bung arieitem. ayo lanjutkan tuangkan ide kreatif mu bung!!

    1. makasih Bung pandu atas kritik. saya memang bermaksud membuat cerita itu lebih ringan karena substansinya memang sudah berat. Kalau saya buat berat, maka akan sama dengan gaya majalah, koran, dan tempo interaktif, (dan itulah yg sangat saya hindari).
      tapi sekali lagi, terima kasih…

  2. ahh rieee…ngibul lo..bilangnya di gw ada video aril ama luna disini…hahahah

    oh jadi lo sempet curhat ama si jibril itu, mungkin klo dia gak masuk bui… dia bakal buka tafsir mimpi online ri.. ckckckkc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s