‘S’

Huff..

Akhirnya selesai, tidak sampai lima menit…!!

***

Aku senang mendapat pelanggan seperti ini. Tua. Stamina payah. Baru kulayani sebentar tapi dia sudah selesai. Tak akan lama aku ada di pengalaman memuakkan itu, lalu setelah itu gepokan uang jutaan rupiah bertambah di rekeningku. Aku bisa belanja kosmetik dan baju bagus, sepatu bermerk, tas mewah dan segala macam rupa barang penghias tubuh. Ajakan hang out teman di klub pun bisa kupenuhi dengan senyum bangga. Ya, aku bisa bergaya seperti kalian. Bergaya dengan uang hasil keringatku sendiri!

 

***

Aku cukup selektif dalam memilih pelanggan. Seperti yang sudah aku ceritakan, aku lebih senang melayani pelanggan yang sudah berumur. Selain karena biasanya mereka tidak akan tahan lama, yang terpenting mereka mapan dan punya banyak uang. Tak jarang bahkan mereka memberi lebih dari tarif seharusnya, dan aku sangat suka itu. Pelanggan muda hanya kupilih jika aku memang ingin menyalurkan libidoku. Salah satu pelanggan yang setiaku memang Bapak ‘K’ yang aku ceritakan tadi di atas. Ia pembesar di partai penguasa dan bersiap maju dalam pemilihan gubernur mendatang. Kaya? Itu pasti. Dan itu yang aku cari.

 

Aku heran kenapa orang-orang bisa memuja dia. Mengagungkannya seperti seorang juru selamat. Bisa menyelamatkan nasib jutaan orang di kota ini dengan pemikiran dan gagasannya. Bagiku, ia tidak lebih hebat. Tak juga lebih hebat dari kemampuannya di ranjang. Aku bahkan geli dengan kumisnya yang tebal. Membuatku geli saat ia mencoba mencium bibir atau (maaf) payudaraku.

Bangsat!!! Aku memaki di hati saat ia melakukan itu.

Sudahlah, aku tidak peduli. Aku tidak peduli dengan kumisnya yang (menurutku) sudah ketinggalan zaman itu. Aku juga tidak peduli dengan gelar doktor yang (menurutnya) ia peroleh di Amerika Serikat dengan nilai terbaik itu. Aku tidak pula memikirkan bagaimana istrinya di rumah menerka-nerka kemana suaminya pergi. Kenapa pula aku harus peduli dengan nasib jutaan rakyat yang bisa saja mempunyai pemimpin seperti dia?

 

***

 

Panggil aku ‘S’. Asalku dari Surabaya. Umurku 27 tahun. Aku datang ke Jakarta sekitar sembilan tahun lalu. Awalnya bermaksud kuliah di salah satu universitas di Jakarta, tapi tidak kuselesaikan. Hanya empat semester, kemudian kutinggalkan. Pendidikan tidak menarik bagiku. Pendidikan tidak mengajarkan cara mendapatkan uang, tapi hanya teori dan tips untuk mencari jalan mendapatkan uang, dengan probabilitas yang sama antara sukses dan kegagalan. Selepas tidak kuliah, aku bekerja serabutan sebagai sales promotion girl. Loncat dari satu acara suatu produk ke acara suatu produk lainnya. Kenapa kemudian aku beralih menjadi pekerja seks komersil kelas atas, itu lewat proses panjang. Setelah aku menyerahkan keperawanan kepada mantan pacarku saat aku berumur 21 tahun.

***

Aku berasal dari kalangan berada sebenarnya. Bapakku salah seorang direktur di salah satu perusahaan milik negara yang ada di Surabaya. Aku anak tunggal dan sekarang berada di Jakarta. Bapak sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga jarang pulang. Ibu? Menunggu Bapak pulang ke rumah. Ya, Ibuku hanya seorang Ibu rumah tangga. Entah karena memang sangat sibuk dengan pekerjaannya, Bapak jarang pulang ke rumah. Alasan yang sering ia katakan adalah harus mengurusi proyek, dinas ke luar kota, rapat dengan pejabat tinggi lain, dan bla bla bla bla…..

Aku tahu. Ibu tahu. Sebenarnya Bapak tak sesibuk itu sehingga hanya bisa pulang sekali dalam seminggu. Lagipula, menurut Ibu, sebagai bos, Bapak tidak harus mengurusi segala pekerjaannya sendiri. “Bapakmu kan punya anak buah. Ia bisa menyuruh anak buahnya jika hanya ingin mengerjakan hal sepele seperti pengawasan proyek. Ia bisa duduk di kantor dan menerima laporan dari anak buahnya,” kata ibu kepadaku suatu waktu.

Bapak punya istri lagi. Begitu hasil penelusuran kami selama ini. Bapak tidak sibuk bekerja, mengawasai proyek atau rapat dengan klien seperti yang ia utarakan kepada Ibu selama ini, namun tinggal bersama istri barunya. Namun entah kenapa, Bapak selalu mengelak saat ditanya apakah benar ia telah menikah lagi. Tidak berani untuk sekedar menjawab ‘YA’ bagi pertanyaan yang sebenarnya sudah kami ketahui jawabnya.

“Ibu hanya ingin mendengar langsung dari Bapakmu,” kata Ibu lagi sambil menangis saat itu.

Enam tahun sudah Bapak hidup dengan istri barunya itu. Ibu pun sudah lelah mencari tahu dan menuntut kejujuran kepada Bapak. Enam tahun kehidupan keluarga kami berlalu hambar, dan enam tahun pula Ibu hidup tanpa jiwa dan cinta kepada Bapak. Bagiku, era jahiliyah tak beranjak dari rumah kami. Ibu tak ubah budak yang melayani Bapak. Memasak untuk Bapak atau melayani kebutuhan biologi Bapak jika sedang di rumah. Kodrat kuno benar-benar terpantek di keluarga kami, perempuan hanya melayani urusan dapur dan kasur sedangkan laki-laki bekerja di luar mencari uang. Terserah kapan laki-laki itu akan kembali, atau juga memilih untuk tidak kembali.

***

Jika laki-laki dan perempuan berlagak lagam, terkungkung di dalam kodrat, lalu buat apa mereka harus bersama dalam pernikahan? Bagiku, bukankah itu menyiksa? Ketika komitmen yang katanya sah di hadapan Tuhan dan hukum formal masih bisa dikhianati, buat apa lagi pernikahan? Ibu pernah bilang kepadaku, menyaru sebagai manusia normal adalah pilihan terbaik untuk bertahan hidup ketika tidak ada lagi yang bisa kau andalkan di kehidupan. Ya, dari sana aku berkesimpulan bahwa Ibu telah merendahkan harga dirinya sebagai perempuan dan manusia untuk bisa bertahan hidup. Merendahkan diri kepada pria yang telah mengkhianati komitmen awal yang disepakati 30 tahun lalu. “Ibu hanya lulusan SMA, tidak punya keahlian yang bisa dijual. Lebih baik begini, jalani hidup yang sudah ada daripada harus memulai hidup dari nol lagi,” ujar Ibu.

***

Tak ada yang bisa diandalkan di kehidupan. Tidak ada yang bisa dipercaya di kehidupan. Aku berkuasa penuh terhadap hidupku. Setidaknya, itu yang aku pelajari dari pengalamanku. Bagaimana aku bisa percaya dan yakin terhadap hal abstrak seperti pernikahan, sedangkan hal nyata seperti manusia saja bisa mengingkari. Aku berkuasa penuh terhadap hidupku… Kalau pernikahan hanya dianggap sebagai sarana untuk melegalkan hubungan seksual antar laki-laki dan perempuan, buat apa menikah? Sewa saja aku!! Tak harus menggelar pesta mahal, di gedung besar jika hanya ingin menyalurkan syahwat. Lagipula, hidup tak semuanya diisi masalah syahwat.

Beberapa mencibir aku karena berprofesi sebagai pekerja seks komersil. Ya, aku tegaskan. Ini profesi, bukan pekerjaan. Aku memiliki keahlian di sini. Kalau saja aku tak ahli, bagaimana pelanggan bisa betah memakai servisku? Beberapa memberi saran kepadaku. Mereka minta aku mencari pekerjaan atau membuka usaha yang (menurut mereka) halal. Menurut mereka, aku tidak akan bisa mengandalkan tubuh sebagai alat jualan dalam waktu panjang. Kata mereka, bagaima nanti jika kulitku keriput? Badanku tidak lagi menarik bagi laki-laki? Bagaimana jika fisik dan pelayanku tidak memuaskan lagi akibat sudah termakan usia? Bagaimana jika ada pemain baru yang lebih muda yang lebih cantik, lebih seksi dari aku?

Kata mereka, apakah aku tidak takut? Bagaimana aku bisa hidup nanti jika sudah tidak lagi laku? Apa yang bisa lakukan untuk menyambung hidup? Apa aku tidak takut hidup susah karena tidak ada lagi keahlian?

Bagiku, aku berkuasa penuh terhadap hidupku.

Jika nanti aku merasa aku sudah jenuh dengan hidup dan tubuh ini kurasa sudah mulai tidak menarik, aku tinggal menghabisi nyawaku. Bunuh diri, lalu mati. Semua ketakutan yang disebut mereka tidak akan pernah datang dan terjadi.

Aku sudah bilang, aku berkuasa penuh terhadap hidupku..

Bahkan, Tuhan pun tidak mampu menginterupsi. Bagiku, semua hanya konsep. Hanya aku yang nyata..

 

 

Advertisements

3 thoughts on “‘S’

  1. Hey…. masih inget tantanganku yang dulu gak?

    Kirim cerpen ke Tempo, serius ini!!
    Teruskan, Ki Sanak!!

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s