Konser Ekslusif Mono yang Antiklimaks

Selasa 11 Oktober 2011…

Lima belas menit sebelum 21.00 WIB, Takaakira Goto (gitar), Yoda (gitar), Yasunori Takada (drum) danTamaki Kunishi (bass) naik ke panggung dan menuju alat musik mereka masing-masing. Mereka terlambat sekitar 45 menit untuk memulai konser di panggung yang sederhana di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan pada malam itu.

Luasnya hanya sekitar 15×15 meter, berlantai cokelat dan ditutupi kain hitam sebagai latar. Tirai di depan pun berwarna sama; hitam! Dua lampu sorot diletakkan di belakang, sebaris dengan set drum Takada. Kombinasi yang sederhana untuk konser yang bertajuk cukup ‘angkuh’; ‘An Exclusive Night with Mono’.

Penonton riuh. Berteriak, bertepuk tangan. Beberapa perempuan memanggil nama Taka, pemain gitar Mono yang sekilas terlihat justru seperti perempuan dibanding laki-laki. Beberapa lagi bahkan meneriakkan beberapa kalimat dalam bahasa Jepang, yang menurut saya (mungkin) baru saja dipelajari beberapa hari sebelum konser.

•••

Entah siapa yang menginstruksikan, mendadak suasana hening. Semua penonton diam tanpa komando. Tidak juga komando dari salah seorang personil Mono. Mereka bahkan tidak berbicara sepatah kata pun kepada penonton sepanjang konser (tidak juga mengucapkan salam atau basa-basi menanyakan kabar seperti konser kebanyakan). Hanya lambaian tangan sebentar yang bisa dimaknai sebagai salam pada malam itu.

Tepuk tangan dan teriakan yang lebih bising kembali pecah saat intro ‘Ashes in the Snow’ dari album ‘Hymn to the Immortal (2009)’ mereka mainkan sebagai lagu pertama. Teriakan dalam bahasa Jepang berlogatIndonesia pun kembali menggema (yang kemudian justru terasa mengganggu karena terlalu bising dan sering).

Emosi penonton seperti benar-benar meluap saat lagu yang memiliki dinamika yang sangat baik itu (menurut saya) dimainkan. Beberapa kepala dan kaki penonton saya lihat bergoyang pelan mengikuti bit drum saat lagu dimainkan hampir mencapai klimaks. Benar-benar lagu pembuka yang luar biasa, jika melihat respon penonton saat itu.

Saya jadi teringat kata promotor (Star D Protainment) dalam kicauan mereka di twitter beberapa saat sebelum konser, yang menyebut bahwa Mono telah menyusun lagu yang akan membuat konser menjadi ‘memorable’. Satu dari delapan lagu itu telah cukup memberi bukti awal.

Setelah puas mengaduk-aduk emosi penonton, mereka seperti mencoba untuk menurunkan tensi dan bermain lebih ‘intim’ dengan memainkan ‘Follow the Map’, dilanjutkan ‘Burial at Sea’.

Panggung kembali membuncah saat mereka memainkan ‘Pure As Snow’ yang sinematik. Ditambah aksi teaterikal Taka yang gila (Taka membalikkan gitar, melempar kursi dan memainkan ambiance sambil bersujud di panggung), sama hal yang sering dilakukan Munaf Rayani di Explosions in the Sky, ia sangat sukses membangkitkan nafsu penonton yang sempat ‘dibuai’ pelan.

Saya sendiri merasa pada lagu keempat itulah titik puncak konser terjadi. Tata suara yang cakap, tata lampu yang mendukung membuat emosi lagu benar-benar keluar dengan baik.

‘Sabbath’, ‘Halo’ dan ‘Moonlight’ kemudian berturut-turut dimainkan. Sangat melodius, ketiga lagu itu masih membius penonton yang tidak terlalu memenuhi Hall Nusa Dua di Balai Kartini. Emosi yang sempat ‘naik’ di ‘Pure As Snow’ mereka tenangkan dengan baik. Tidak ada tepuk tangan dan teriakan meriah di ujung tiga lagu itu. Emosi penonton turun perlahan.

Konser pun ditutup dengan ‘Everlasting Light’ yang pelan. Sama halnya dengan tiga lagu sebelumnya, mood penonton sangat terlihat ‘so-so’ di lagu penutup yang tidak ‘garang’ itu. Penonton menikmati, tapi keintiman terasa mulai berkurang.

•••

Entah apa yang para personil Mono pikirkan, susunan lagu yang mereka buat di Jakarta memang terasa antiklimaks; hambar di ujung, meski terasa sangat manis di pangkal. Susunan lagu yang disusun seolah sengaja menyisakan ruang untuk encore. Dan terbukti, penonton seolah tidak percaya jika konser telah berakhir setelah ‘Everlasting Light’ dimainkan.

Beberapa penonton terlihat saling berpandangan heran atau mengangkat bahu. Setelah beberapa menit selesai pun, sebagian besar penonton masih duduk di bangku mereka dengan muka ragu. Menyiratkan; kalau ditinggal takut Mono ternyata memainkan lagu tambahan, namun jika tetap duduk tak ada tanda kalau lagu tambahan itu akan dimainkan.

Tanda-tanda konser selesai mulai pasti saat tirai hitam menutup panggung, disusul lampu menyala perlahan dan diputarnya lagu Linkin Park dari pemutar cakram. Semua penonton pun otomatis balik kanan dengan mood ‘kentang’ alias kena tanggung.

Satu hal yang patut disyukuri adalah; untung konser itu bukan konser gratisan band lokal yang sering dibikin partai politik untuk kampanye. Jika iya, saya yakin penonton akan melempar apa pun ke panggung atau bahkan membakar sesuatu untuk memicu ricuh.

•••

Tapi, satu hal yang tetap saya apresiasi adalah; kenekatan promotor untuk mendatangkan Mono ke Jakarta. Meski mereka termasuk memiliki nama besar di industri musik post-rock dunia, namun aliran musik itu tetap ‘segmented’ di Indonesia.

Promotor sendiri mengakui tidak sulit dan tidak ribet untuk membawa Mono ke Jakarta. Tidak ada permintaan khusus yang diminta Mono untuk main di kota terakhir sebelum mereka kembali masuk studio untuk merekam album ke-6.

“Tidak ada permintaan yang aneh. Mereka mengurus semuanya sendiri. Barangkali karena mereka termasuk musisi independen,” kata salah seorang panitia.

•••

Syahdan, terlepas dari ‘kena tanggung’ konser yang diakibatkan susunan lagu yang (mungkin sengaja disusun) antiklimaks itu, secara garis besar Mono bermain bagus, rapi, dengan tata suara yang bagus dan tata lampu yang mendukung suasana lagu (meski beberapa kali dua lampu sorot yang ada di dekat drum memancarkan sinar berwarna biru atau merah yang terlalu terang ke arah penonton sehingga menyilaukan mata).

Kesan ekslusif masih terasa meski tidak maksimal. Jika diibaratkan wartawan yang lagi mencari berita; seorang wartawan berhasil menemui seorang narasumber yang sedang paling dicari orang (dan paling susah ditemui). Setelah berhasil ditemui dengan susah, wartawan itu berharap bisa mendapatkan bahan dan menuliskan berita bagus dan ekslusif dengan kutipan yang ganas. Ternyata, narasumber itu justru lebih banyak menyampaikan pernyaaan ‘off the record’ dan saat bisa bisa dikutip, ia hanya membicarakan hal bapuk yang ‘gak ngelead’ dan bagus untuk dikutip.

•••

Kekeceweaan pada dasarnya muncul karena ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap sesuatu. Walhasil, saat pencapaian tak maksimal, kekecewaan justru yang pertama kali munyeruak. Itulah yang saya rasakan.

Jika ada penonton yang total terpuaskan dengan aksi Mono kemarin, barangkali mereka memang ‘fans berat yang berani mati’ yang mampu memaafkan Mono. Tapi, jika saya atau ada beberapa penonton lain yang kecewa, itu hanya dipicu karena saya merasa Mono sebenarnya bisa menyuguhkan hal yang lebih fantastis dari apa yang mereka tunjukkan selama sekitara 60 menit pada Selasa, 11 Oktober 2011 malam itu. Saya tahu mereka bisa, karena pada dasarnya mereka punya kemampuan untuk itu. :))

Anyway, semoga bisa kembali ke Indonesia, Mono!! Sukses untuk album studio ke-6 kalian.

Cheers, :))

Untuk yang belum tahu Mono, sila diklik tautan berikut: http://en.wikipedia.org/wiki/Mono_(Japanese_band)

 

 

Advertisements

One thought on “Konser Ekslusif Mono yang Antiklimaks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s