Cameron Brown: Iron Man dari Selandia Baru

Cameron Brown (kiri; bercelana renang hitam pendek dan memegang penutup kepala abu-abu) memberi instruksi kepada peserta pelatihan triathlon di Pantai Lagoi, Bintan, Kepulauan Riau“

Sinar matahari pada Sabtu pagi dua pekan lalu di pantai Lagoi, Bintan, Kepulauan Riau membuat dahi mengernyit. Panasnya menusuk kulit. Hampir 30 derajat Celcius. Permukaan laut memantulkan cahaya matahari dengan terang. Berkilau-kilau dan meyilaukan.

Di bibir pantai, puluhan orang yang mayoritas warga negara asing meriung, berpusat pada satu pria ‘bule’ berperawakan tegap dan berotot. Setiap gerak-geriknya diperhatikan dengan seksama. Terkadang ia bergerak seolah-olah berenang dengan gaya bebas, lalu kemudian berpura-pura tengah mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi. Sesekali pula kerumunan tertawa, saat lelucan terlontar.

Lelaki ‘bule’ itu, Cameron Brown, 39 tahun. Ia adalah juara sepuluh kali triathlon Iron Man (2001-2005 dan 2007-2011) yang rutin dihelat setiap tahun di Taupo, Selandia Baru. Ia juga pemegang medali perak kejuaraan dunia triathlon jarak jauh yang diadakan di Hawaii, Amerika Serikat pada 2001 dan 2005, serta pemegang medali perunggu di turnamen yang sama pada 2002 dan 2003. Pria asal Auckland, Selandia Baru itu juga merupakan juara turnamen triathlon jarak jauh Eropa pada 2006. Walhasil, dengan seabrek prestasi itu, ia pun dijuluki Iron Man asal Selandia Baru, atau pria dengan fisik setangguh baja.

Bagi pecinta triathlon, atau lomba uji daya tahan tubuh, Cameron Brown adalah legenda, meski ia kerap kali mengelak dari sebutan tersebut. Ia menghabiskan lebih dari 25 tahun hidupnya untuk berkompetisi di lomba yang menggabungkan renang, sepeda dan lari itu. Tak heran, puluhan pria dan wanita yang hadir saat training camp di pantai Lagoi saat itu antusias mendengarkan setiap instruksi Cameron meski harus merogoh kocek sebesar USD 300, atau sekitar Rp 3 juta untuk paket pelatihan selama beberapa hari.

Saya bukan legenda. Saya hanya orang yang mencintai olahraga ini. Yang pantas disebut legenda adalah Rick Wells, Mike Pigg dan Mark Allen,” kata Cameron, menyebut beberapa nama atlet triathlon dunia.

Cameron Brown pas lagi wawancara di Hotel Nirwana

Meski terdengar asing di Indonesia, olahraga triathlon sebenarnya populer di kawasan Eropa, Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru. Di kawasan itu, setiap lomba triathlon hampir selalu disesaki peserta. Lomba itu memang berat dan melelahkan. Untuk kategori pemula, peserta triathlon diwajibkan menempuh jarak 1,9 kilometer dengan berenang, 90 kilometer bersepeda dan 21,1 kilometer berlari. Sedangkan kategori paling bergengsi yang bertitel Iron Man, peserta harus menempuh jarak dua kali lipatnya, yaitu berenang sejauh 3,8 kilometer, bersepeda sejauh 180 kilometer dan berlari sejauh 42,2 kilometer.

Cameron sendiri merintis karir sebagai triathlete profesional (sebutan untuk atlet triathlon) saat usia sekolah pada 1987, dengan mengikuti sebuah lomba lari jarak jauh di Kota Devonport, Selandia Baru. Meski tidak menang, saat itu ia merasa ketagihan sehingga kemudian ia sering mengikuti lomba sejenis. Cameron tidak ingat pasti nama lomba yang ia ikuti, namun Brownie (panggilan akrab Cameron) mengungkapkan bahwa ia memenangi lomba pertama pada usia 17 tahun.

Di sana (Selandia Baru), lomba ketahanan fisik seperti triathlon sangat banyak. Jadi sangat normal saat banyak anak muda yang menggelutinya. Olahraga ini (triathlon) sangat populer,” ujar Cameron lagi.

Sekarang, meski telah menjadi atlet kelas dunia, Cameron mengaku tidak pernah meninggalkan kebiasaanya berlatih fisik dan ketahanan tubuh. Minimal, menurut Cameron, ia harus berlari, bersepeda atau berenang dalam jarak pendek dengan total latihan sekitar 40 jam dalam seminggu. “Untuk menjadi atlet profesional, kamu tidak bisa berlatih sesukanya. Kadang berenang, tapi kemudian tidak berlatih sama sekali selama seminggu. Tidak akan bisa (jadi juara),” Cameron menambahkan.

Jika akan mengikuti satu perlombaan, terang Cameron, persiapan yang ia lakukan akan lebih berat dan panjang. Normalnya, menurut Cameron, persiapan harus dilakukan tiga bulan sebelum lomba. Tidak hanya berlatih, asupan gizi juga harus dijaga. Saat ditanya resep makanan rahasia yang selalu ia santap sebelum berlomba, Cameron menyebut satu jenis makanan sambil tersenyum.

Salmon pasta buatan istri saya. Itu rahasianya,” ujar Cameron.

Cameron adalah pria yang tenang dengan gaya bicara tegas dan terbuka dalam sesi wawancara. Ketika beberapa wartawan yang mengerumuninya, memintanya memberi beberapa saran, ia dengan senang hati menceritakan beberapa trik. “Selain fisik prima, Anda juga harus memiliki mental kuat. Ketika Anda berlari puluhan kilometer, pasti ada dorongan dari dalam diri yang menyuruh Anda berhenti karena lelah. Pemikiran seperti itu selalu ada. Jadi, Anda harus terus melawannya. Butuh mental yang kuat untuk terus berlari dan menyelesaikan lomba,” ujarnya sambil menunjuk kepala, memberi isyarat bahwa kekuatan mental harus berasal dari pikiran.

Fokus, dikatakan Cameron juga merupakan kunci dalam triathlon. Ia mencontohkan kecelakaan yang pernah ia alami saat menempuh rute bersepeda dalam suatu lomba triathlon di Selandia Baru beberapa tahun lalu. Karena tidak fokus, kata Cameron, ia terjatuh dari sepeda akibat melihat salah seorang penonton perempuan. “Saya terjatuh menimpa handle sepeda. Itu sangat memalukan,” kata pria kelahiran 20 Juni 1972 itu lagi sambil tertawa.

Ia mengaku belum memikirkan waktu pensiun dari triathlon, meski usianya genap 40 tahun Juni nanti. Baginya, usia 40 justru awal untuk mengembangkan karir. Ia percaya, triathlon justru lebih ‘bersahabat’ bagi orang yang berumur lebih dari 40 tahun. Alasannya, ketika usia 40 tahun, otot akan lebih lentur dan membantu tubuh bergerak lebih dinamis, misalnya saat berenang jarak jauh.

Cameron adalah seorang yang antusias dan optimis. Begitu kesan yang tersirat dari pria bertinggi sekitar 175 sentimeter itu. Sore hari, saat pengunjung hotel lain tengah asik bermain di pinggir pantai, saya memergokinya tengah berjalan telanjang kaki menuju lobi Hotel Nirwana Resor, tempat ia menginap selama di Bintan. Ia tengah mengenakan pakaian renang full-piece berwarna hitam dan meneteng sepatu olahraga. Ia berjalan dengan langkah tergesa, seolah sedang diburu waktu.

Lomba pada September nanti (Iron Man Bintan) sangat menantang. Banyak trek sulit yang harus dilewati. Saya beruntung pernah mencoba terlebih dahulu sekarang. Saya harus berlatih, karena saya ingin juara nanti,” pungkasnya sambil tersenyum, kemudian berlalu.

 ***

Juga dimuat di Koran Tempo Minggu, 29 April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s