Menanti Deru ‘Panser’ Muda

Marc Andre Ter Stegen di Borussia Muenchengladbach (foto:kicker)

Marc Andre Ter Stegen baru saja merayakan ulang tahun ke-20 sepekan sebelumnya, ketika ia mendapat panggilan pelatih tim nasional senior Jerman, Joachim Loew untuk ikut bersama skuad ‘Die Mannschaft’ ke pulau Sardinia, Italia pada 11 Mei lalu. Bersama pemain tengah berusia 18 tahun asal Schalke 04, Julian Draxler, penjaga gawang Borussia Monchengladbach itu menjadi kejutan saat masuk ke dalam 27 nama yang diumumkan Loew sebagai skuad sementara timnas Jerman yang sedang dipersiapkan ke Polandia-Ukraina.

Delapan belas hari kemudian, ketika Loew mengumumkan 23 pemain yang akan dibawa ke Piala Eropa, nama dua pemain muda memang itu tidak disebut. Mereka ‘ditinggal’ setelah mencatat pertandingan pertama bersama skuad senior saat melawan Swiss. Draxler bermain di 28 menit akhir pertandingan, sedangkan Ter Stegen bermain selama 90 menit dan diberondong lima gol oleh para pemain Swiss.

Namun, bukan karena lima gol itu Loew tidak memilih Ter Stegen atau Draxler. Mantan asisten Jurgen Klinsmann itu mengungkapkan alasannya. “Mereka memang potensial. Tapi mereka masih sangat muda dan bisa bermanfaat bagi Jerman di masa depan. Bahkan, Draxler masih bisa bermain untuk tim U-19. Perjalanan mereka masih sangat panjang,” ujar Joachim Loew, memberi alasan kepada wartawan seusai pengumuman skuad Jerman yang dibawa ke Piala Eropa.

Jerman di era Loew memang dikenal menggilai pemain muda. Sejak menggantikan Jurgen Klinsmann usai Piala Dunia 2006, pelatih 52 tahun itu terus ‘meremajakan’ skuad Jerman dengan tujuan untuk membuat tim menjadi lebih bertenaga dan menguasai bola lebih banyak. Semua anggota tim pun sepakat dengan sang pelatih.

“Kami telah menunjukkan bagaimana cara menguasai bola dan menembus tim yang bermain bertahan seperti saat uji coba melawan Israel. Israel sempat membuat kami kesulitan karena mereka bertahan jauh sangat dalam. Kami rasa, tim di Piala Eropa nanti akan menunjukkan cara permainan sama saat melawan Jerman,” ujar manajer timnas Jerman, Oliver Bierhoff, seusai uji coba melawan Israel yang mereka menangkan dengan skor 2-0.

Mantan penyerang timnas Jerman itu barangkali belajar dari final Piala Eropa 2008, saat Jerman kalah dari Spanyol yang memiliki lebih banyak pemain muda. Spanyol yang saat itu menjadi tim termuda ketiga di turnamen dengan rataan usia 26,42 tahun, mampu bergerak dan terus menekan sepanjang 90 menit partai final di Ernst Happel, Wina, Austria. Jerman sendiri saat itu menjadi tim tertua ketiga di turnamen dengan rataan usia 29,07 tahun, di bawah Swedia (rataan usia 29,16 tahun) dan Italia (29,12 tahun).

Tim matador (julukan Spanyol) yang dimotori Xavi Hernandes, terus bergerak dan mengancam gawang Jens Lehmann dengan tujuh kali percobaan tepat ke gawang, berbanding satu kali percobaan milik Jerman. Para pemain belakang Der Panser (julukan lain Jerman) pun dibuat kelimpungan dengan pergerakan bola Spanyol yang terus mengalir. Walhasil, Per Mertesacker Cs terpaksa melanggar para pemain Spanyol sebanyak 22 kali.

Berdasar statistik yang dikeluarkan Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA), Spanyol memang menjadi tim paling agresif di turnamen tersebut. Mereka menjadi tim tersubur sepanjang turnamen dengan 12 gol, dan tim yang paling sering mengancam lawan dengan 52 kali percobaan tepat ke gawang. Jumlah itu jauh di atas tim peserta lainnya. Hanya Rusia yang mampu menyaingi keagresifan Spanyol, dengan 32 kali percobaan tepat ke gawang lawan. Rusia sendiri merupakan tim termuda di Piala Eropa 2008, dengan rataan usia 26,15.

Secara ilmiah, pendapat itu pun dibenarkan beberapa pihak. “Atlet yang lebih muda lebih memiliki ketahanan fisik, kekuatan dan mobilitas saat bertanding, dibanding atlet yang lebih tua,” seperti yang tertulis dalam kolom yang biasa menangani pelatihan dalam olahraga softball, Raiders Huntsville di Amerika Serikat.

Hanya, menurut beberapa orang, teori itu masih bisa dimentahkan. Colm Larkin, salah seorang kolumnis sepak bola memgatakan, pengalaman tim lebih penting dari usia muda. Ia mencontohkan skuad timnas Italia saat menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman. “Final mempertemukan dua tim yang memiliki rataan usia yang cukup tua (Italia dan Prancis). Bahkan, yang juara adalah Italia yang memiliki rataan usia tertua di turnamen,” kata Larkin.

Tapi Loew sepertinya lebih percaya pada pengalaman sendiri. Pada Piala Dunia 2010, turnamen internasional kedua yang ia jalani bersama Jerman, ia kembali merombak skuad dan membuat rataan usia skuad tim Jerman jauh menurun. Der Panser saat itu memiliki rataan usia skuad 25 tahun, atau lebih muda sekitar empat tahun dari Piala Eropa 2008. Meski kembali kalah oleh Spanyol di semi-final dan hanya meraih peringkat ketiga turnamen, namun Loew puas karena menemukan beberapa pemain muda yang bisa lebih matang di masa depan, seperti Sami Khedira atau Mesut Oziel

Sekarang, ketika Loew telah memilih 23 nama yang ia bawa ke Piala Eropa 2012 di Polandia-ukraina, dan menjadikan Jerman menjadi tim termuda di turna,en, seluruh Jerman seerpti tetap berada di belakangnya.

“Saya cukup terkejut dengan pilihan Loew. Ia banyak memanggil pemain muda yang bersinar di Bundesliga. Itu adalah tanda bagus yang mengindikasikan bahwa Loew percaya dengan dengan mereka. Selama beberapa tahun ditangani Loew, timnas Jerman pun juga telah sukses di beberapa turnamen level internasioanl. Itu adalah kemajuan bagi Jerman,” kata pemain nasional Jerman saat merebut Piala Eropa 1972, Gunter Netzer.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s