Kawan-Lawan

Satu kawan pernah bilang bahwa kedamaian dunia itu sebenarnya secara tak langsung didorong akibat perlombaan senjata pemusnah massal antarnegara. Misalnya, kisah Amerika Serikat yang hanya berani ancam Iran atau Korea Utara karena pada dasarnya, negara ‘Abang Sam’ itu takut jika suatu saat dua negara dunia ketiga itu ‘kesambet’, lalu melepaskan senjata nuklir yang mampu bergerak ribuan kilometer ke wilayah AS. Seberapa buruk efeknya? Saya tak tahu pasti. Tapi konon, efek hancurnya tidak hanya akan menimpa AS, tapi juga wilayah tetangga.

Sebaliknya juga begitu. Kenapa, misalnya, Iran atau Korut sampai ‘niat’ memiliki senjata nuklir? Analisa teman saya lagi, karena mereka takut jika suatu saat AS juga ‘keblinger’, lalu melepaskan senjata nuklir (atau mungkin senjata biologi) ke wilayah dua negara itu. Yang hancur tentu saja bukan hanya area Iran atau Korut, tapi mungkin bisa sampai tetangga mereka: Irak, Turki, atau Jepang.

Nah, menurut teman saya, mana mungkin negara lain mau kena getah, kerugian akibat bom, jika mereka tidak ada tendensi apa pun terhadap konflik yang terjadi? Ibaratnya, si semut tentu tak mau diinjak jika para gajah yang sedang bertarung di sebuah tanah lapang. Maka, dunia luar pun menekan semua negara yang memiliki senjata nuklir, dan senjata pemusnah massal lainnya agar tidak menggunakan senjata yang mereka punya.

Dalam tafsir saya, ada benarnya perkataan itu. Untuk menciptakan kedamaian, terkadang memang ancaman perang yang dibutuhkan. Perdamaian itu memang rapuh, serapuh peperangan itu sendiri.

Bagi saya, konsep perdamaian dan peperangan itu sangat tipis. Persis setipis definisi kawan dan lawan. Saya menilainya sebagai kata yang bermakna ‘kembar sialan. Susah dibedakan, tapi tiba-tiba refleks ia bisa membuat Anda memaki dan berucap “sialan” kepada lawan yang sebelumnya adalah kawan.

Konsep itu pun bergerak secara global, memiliki masa dan area tersendiri. Setiap zaman ada perangnya sendiri, lalu disusul perdamaiannya sendiri. Begitu terus, sejak zaman Adam hingga sekarang. Tidak hanya di tanah Arab, tempat Islam diturunkan, tapi menjalar ke seluruh dunia. Termasuk di Indonesia.

Saya mencoba mengaitkan masalah itu ke dalam konteks yang lebih kecil dan dekat dengan saya, yaitu sepak bola Indonesia. Sebentar lagi, kabarnya pihak yang bersengketa akan berdamai. Mereka disebut bersedia meredam ego demi kemaslahatan olahraga paling populer se-Tanah Air itu. Apa benar secepat itu mereka berdamai, setelah sebelumnya saling caci?

Oia, saya lupa bahwa perang dan perdamaian itu ‘kembar sialan’. Semesta memang dinamis. Manusianya juga. Kawan-lawan hanya konsep. Manusia yang mengonsepnya, atau mungkin hanya menjalankan konsep yang diciptakan semesta.

Lalu, apa benar sepak bola Indonesia berdamai? Jangan tanya saya karena saya tak yakin. Keyakinan saya hanya sebatas bahwa perdamaian itu rapuh, serapuh peperangan itu sendiri. Saya hanya yakin bahwa lawan itu rapuh, serapuh perkawanan itu sendiri.

Salam!

MoU PSSI-PSSI bayangan di Kuala Lumpur (foto: AFC)

**

Sila buka tautan berikut untuk berita MoU di situs AFC:

http://www.the-afc.com/en/news/39383-unity-boost-for-indonesian-football

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s