Pria Itu, PSSI dan Timnas Indonesia

Tim nasional Indonesia (foto: antara)

Gelap menggelayut rendah di ruang ganti tim nasional Indonesia malam itu. Hening menjalar ke setiap sudut ruangan. Tak ada perbincangan. Aji Santoso, caretaker timnas Indonesia pun hanya diam, terduduk meratapi hasil pertandingan yang baru saja diraih timnya.

Indonesia kalah telak 0-10 dari tuan rumah Bahrain pada pertandingan terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2014 di Stadion Nasional Bahrain, Manama saat itu. Cacian menyergap segenap rombongan dari semua sisi. Tak ada ruang membela diri, kecuali menudiang wasit sebagai biang kerok kekalahan.

Kekalahan itu memang memalukan. Terakhir kali timnas kalah dengan skor hampir sepuluh gol adalah 3 September 1974. Saat itu, Indonesia dikalahkan Denmark dalam uji coba di Kopenhagen dengan skor 9-0.

***

Saya bertemu pria itu, seorang pesepakbola nasional pada malam sebelum pertandingan Indonesia melawan Inter Milan. Di halaman belakang Hotel Century, Senayan kami bertemu, berbincang hingga menjelang tengah malam.

Pria itu masuk dalam rombongan anggota timnas yang dipecundangi Bahrain di Manama. Banyak hal yang ia ceritakan, mulai dari kecurigaannya terhadap netralitas wasit hingga banyaknya pemain tidak berpengalaman yang tercantum ke dalam skuad yang membuat kualitas timnas sangat buruk saat itu. “Wajar saat itu kita kalah. Tapi sampai 10-0 saya juga tidak menduga,” katanya.

“Bayangkan! Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia memanggil banyak pemain tidak berpengalaman, bahkan bukan pemain utama di klubnya,” ujarnya lagi.

Ia mencontohkan kiper Adi Muhammad Guntur yang diberondong sepuluh gol dalam pertandingan itu. “Kenapa justru dia yang dipanggil. padahal di PSM Makassar, ia bukan kiper utama. Kalau PSSI memang serius, kenapa tidak memanggil Denny Marcel yang memang penjaga gawang pertama di PSM?” katanya, mencoba menggugat.

Ia menilai PSSI tidak serius dalam menghadapi pertandingan itu. Meski timnas memang sudah tidak memiliki peluang lolos ke putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia zona Asia, menurutnya tidak seharusnya sampai bertindak nekad dan menjual harga diri bangsa dengan mengirimkan pemain ‘amatir’ di pertandingan selevel kualifikasi PD.

Bahrain-vs-Indonesia 10-0

***

Kami beranjak ke kantin di sebelah hotel karena ia ingin mencari minuman hangat malam itu. Ia mengaku sedang enak badan sehingga kemudian memesan segelas teh manis hangat. Sejenak duduk, lalu ia mengeluarkan sebungkus rokok ‘A Mild’ dari kantong celana, menarik sebatang dan menyalakannya.

“Sehari bisa kuat berapa batang rokok, Bang?” tanya saya.

“Kadang bisa sebungkus,” jawabnya singkat.

Beberapa kali ia menarik nafas panjang saat itu, dan sempat meminta izin sejenak untuk ‘buang ingus’ di dekat pohon yang ada di depan kantin. Setelah teh manis hangat datang, ia pun kembali bercerita, mempertanyakan kapabilitas pengurus PSSI Djohar Arifin.

“Tidak ada perbedaan kepengurusan sekarang dengan era Nurdin. Sama-sama kacau,” katanya.

“Misalnya saja pemanggilan untuk pertandingan lawan Inter ini. panggilan baru datang kemarin, dan kami harus berangkat hari itu juga. Semua serba mendadak. Bahkan ada rekan saya yang berangkat malam ini dari daerah ke Jakarta. Besok langsung main lawan Inter. bagaimana bisa?” jelasnya.

Bahkan, dalam hal remeh pun, ia menyebut PSSI sangat tidak profesional dan pelit karena tidak membolehkan para pemain timnas untuk membawa pulang jersey yang baru saja mereka pakai di pertandingan. “Masa’ diminta balik? akhirnya waktu itu saya sengaja sembunyikan agar bisa dibawa pulang,’ ujarnya.

Selain buruknya kepengurusan, ia juga mengkritik suasana timnas Merah-Putih. Timnas yang saat ini banyak diisi pemain muda, menurutnya, tidak berada dalam suasana kondusif. “Kebanyakan para pemain muda yang ada di timnas saat ini sombong karena merasa sudah menjadi bintang. Lihat saja pemain yang ada di skuad Sea Games 2011 kemarin, tidak juara tapi sudah merasa seperti memenangkan banyak gelar,” katanya.

“Sangat berbeda dengan suasana timnas dulu, saat masih ada pemain senior seperti Bambang Pamungkas. Makanya sekarang saya malas memenuhi panggilan timnas. Termasuk panggilan turnamen ke Palestina kemarin,” ujarnya lagi.

Pria itu memang tidak ada dalam skuad timnas ke Al-Nakbah di Palestina. Ia lebih memilih memperkuat klub yang menggajinya dengan jumlah yang besar. “Gaji saya Rp 40 juta per bulan. Saya adalah pemain lokal bergaji tertinggi di klub saya,” ia bercerita.

“Apa yang akan Abang lakukan setelah pensiun nanti?” tanya saya.

“Mungkin saya akan kembali ke kampung halaman dan membuka bisnis di sana. mungkin saya masih akan bermain empat-lima tahun lagi,” jawabnya.

***

Teh di gelas sudah tandas. Ia berkeras mentraktir saya malam itu, yang hanya membeli sbotol Aqua. Kami beranjak meninggalkan kantin dan kembali ke hotel. Di lobi kami berpisah. Dalam hati saya berdoa, semoga timnas bisa lebih baik di masa mendatang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s