Emerson Sheik, ‘Hiu’ dari Corinthians

emerson ‘shark’ (foto: official magic pg)

Sembilan puluh menit waktu normal di Estádio Municipal Paulo Machado de Carvalho, São Paulo, Brasil hampir rampung ketika pemain belakang Boca Juniors, Matias Caruzzo tiba-tiba melanggar pemain depan Corinthians, Emerson Sheik dengan cukup kasar. Kedua pemain terjauh dengan posisi Caruzzo menimpa Emerson.

Caruzzo yang ingin membalas ketertinggalan gol Boca Juniors segera bangkit. Ia berusah bangun dan menarik tangannya yang menimpa muka Emerson. Namun tarikan tangan yang cepat itu mengagetkan Caruzzo. Emerson tiba-tiba menggigit telapak tangan Caruzzo, persis ketika telapak tangan itu melewati mukanya.

Pemain Boca Juniors itu terperanjat. Ia marah dan mencoba mengadu kepada wasit tentang tindakan licik Emerson. Wasit yang tidak melihat kejadian mengabaikan rengekan Caruzzo. Dalam posisi masih terlentang, sekilas Emerson tersenyum sinis, kemudian bangkit dengan muka tak berdosa.

Para penggemar tim Biru-Kuning (julukan Boca) memaki tindakan tidak sportif mantan pemain Al-Saad di Liga Qatar tersebut. Namun bagi penggemar Corinthians, pria 33 tahun itu adalah pahlawan. Ia mencetak dua gol kemenangan Corinthians atas Boca Juniors di pertandingan kedua final Piala Libertadores 2012 dan memberi assist gol penyama kedudukan di pertandingan pertama di Bombonera. Corinthians pun juara Libertadores untuk pertama kalinya.

“Kami kecewa kalah oleh Corinthians. Tapi saya lebih kecewa dengan tindakan tidak sportif Emerson. Padahal ia adalah penyerang yang bagus,” kata pelatih Boca Juniors, Julio Cesar Falcioni, seusai pertandingan.

‘Duel’ Emerson Sheik-Matias Caruzzo di final Copa Libertadores 2012. (foto: veja.avril.com)

Pernyataan lebih sinis dikeluarkan kolumnis Brook Peck dengan mengganti nama Emerson Sheik menjadi Emerson Shark, untuk merujuk kepada hiu yang suka menggigit mangsanya. “Ia harus mendapat ganjaran atas perbuatan tersebut. Wasit memang tidak melihat kejadian, tapi kamera televisi menangkapnya,” tulis Brook.

“Luis Suarez dihukum tujuh laga akibat menggigit lawannya saat masih di Eredivisie. Emerson harus mendapat ganjaran yang kurang lebih sama,” kata Brook, memberi perbandingan.

Sejak memulai karir profesional tahun 1998, pemain kelahiran Nova Iguacu, Brasil, namun beralih kewarganegaraan Qatar itu memang akrab dengan kontroversi. Pada 2006, saat masih bermain di Qatar bersama Al-Saad, ia pernah ditangkap polisi atas dugaan pemalsuan akte kelahiran. Pada akte kelahiran palsu yang ia gunakan untuk paspor, Emerson menggunakan nama Marcio Emerson Passos, dengan kelahiran 6 Desember 1981. Sedangkan di akte kelahiran asli, pria plontos itu bernama Marcio Passos de Albuquerque, dengan kelahiran 6 September 1978. Pencantuman nama Sheik di belakang nama Emerson sendiri merupakan panggilan dari pers Brasil karena ia pernah bermain di Jazirah Arab.

Kepindahannya ke Corinthians pada awal 2011 pun merupakan ‘pelarian’ setelah tersandung kasus indisipliner bersama klub sebelumnya, Fluminense. Padahal, semasa di Fluminense, pemain yang juga pernah bermain di Liga Jepang itu merupakan penyerang andalan tim Tricolor Carioca (julukan Fluminense), dan membantu klub yang bermarkas di Stadion Joao Havelange itu meraih titel Liga Brasil tahun 2010.

Tidak hanya ditingkat klub, kontroversi juga mengiringinya di level tim nasional. Setelah berganti kewarganegaraan dari Brasil ke Qatar tahun 2008, dan bermain di tiga pertandingan bersama timnas Qatar di awal tahun, Emerson tidak lagi dapat memperkuat timnas negara barunya itu. Pasalnya, pada April 2008, Emerson diketahui pernah bermain memperkuat timnas U-20 Brasil sehingga tidak bisa memperkuat timnas Qatar.

Berdasar aturan Federasi Sepak Bola Internasional Pasal 17 tahun 2008, pemain yang berpindah warga negara, tapi tidak memiliki garis keturunan dari negara barunya itu, hanya bisa bermain jika sebelumnya tidak pernah bertanding di pertandingan resmi di semua level. Emerson terganjal karena pernah memeperkuat timnas U-20 Brasil. Sejak saat itu, ia pun tidak bisa lagi bermain untuk Qatar. Sebaliknya, ia juga tidak bisa kembali memperkuat tim Samba (julukan Brasil) karena Brasil tidak mengenal kewarganegaraan ganda.

Emerson sheik dengan seragam Corinthians

Sekarang, di penghujung karir, Emerson tidak peduli meski ia tidak akan pernah membela timnas negara manapun. Ia memilih fokus kepada karir di klub dan meraih lebih banyak trofi.

“Setahun yang lalu, orang-orang menyebut saya sebagai pemain yangg tidak jelas. Mereka tidak menyukai saya karena saya disebut tidak profesional,” ujar Emerson.

“Tapi sekarang, mereka semua salah. Saya adalah juara Libertadores dan memenangkan tiga gelar liga Brasil di tiga klub berbeda. Saya adalah seorang yang profesional,” balas Emerson.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s