Sepenggal Cerita tentang Surya Lesmana (II)

Surya Lesmana di kantor PSSI Kamis siang, 2 agustus 2012 (foto: sendiri)

Kamis malam, 2 Agustus 2012. Saya mendapatinya tengah berselonjor di dekat tribun selatan Stadion Utama Gelora Bung Karno. Ia menegur saya yang melaluinya saat menuju lapangan untuk menyaksikan latihan terbuka Valencia. Tak saya duga ia menepati omongannya pada siang hari, yang mengatakan ingin menyaksikan latihan tim ‘Kelelawar Mestalla’.

Gua pengen lihat gimana sih Valencia latihan,” ujarnya saat itu.

Saya pikir pernyataan siang hari yang menyebut akan menonton latihan tim Valencia hanya candaan. Pasalnya tak mungkin ia masih berada di lingkungan GBK malam hari. Sudah sekitar pukul 20.00 WIB. Biasanya, menjelang magrib ia sudah akan meninggalkan kantor Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia dan lingkungan GBK.

Saya menyempatkan diri sejenak kembali ngobrol dengannya malam itu. Mumpung rombongan tim Valencia pun belum datang. Seringkali saya coba mengarahkan pembicaraan mengenai masa mudanya, saat ia bermain di Mc Kinnan di Liga Hong Kong dulu. Tapi seperti biasa, ia tidak mau bercerita banyak soal itu. Entah malu atau lupa, ia selalu membelokkan pembicaraan, atau menjadikan saya sebagai objek perbincangan.

You harus jadi wartawan yang baik. Nulis yang bagus, yang bisa membangun sepak bola Indonesia,” katanya, menasehati saya. Seperti biasa pun, saya hanya mengangguk atau tersenyum menanggapinya.

Paling banter menjawab: ‘Ok, Om!” Atau. “Siap, Om!”

***

Kabar duka datang dari seorang rekan pada Rabu siang, 8 Agustus 2012. Isinya, kurang-lebih: ‘Telah meninggal dunia, mantan pemain nasional, Surya Lesmana.”

Mengejutkan bagi saya, karena Kamis pekan lalu saya masih bertemu dan berbincang dengannya. Dan bagi saya, ia masih terlihat cukup sehat waktu itu, meski tubuh ringkih akibat gerogotan usia tetap tak bisa berbohong. Tapi tak disangka, Kami pekan lalu itu menjadi pertemuan terakhir saya dengannya.

 

Pembicaraan antara saya dan Surya selalu berlangsung hangat, termasuk Kamis siang, 2 Agustus lalu di ruangan Koordinator Tim Nasional, Bob Hippy. Saya memang tidak pernah menggunakan pendapatnya untuk berita yang saya tulis. Dengan melihat keadaanya sekarang, saya memposisikannya lebih sebagai teman berbincang yang menyenangkan. Kesenangan pribadi bisa menyusun sejarah sepak bola nasional dari perspektif ‘Si Jango’.

Siang itu ia mengenakan jeans berwarna biru, kaus berwarna senada, topi ‘Global TV’ putih yang telah lusuh dan sepatu ‘crocs’. Memang hanya ‘semewah’ itu penampilannya. Jangan bandingkan dengan Anjas Asmara yang parlente. Tubuh Surya pun tidak menebarkan wangi parfum mahal Clive Christian Imperial Majesty atau parfum desain Joel A. Rosenthal. Hanya ‘wangi matahari’, seperti bau bocah Sekolah Dasar kebanyakan yang menusuk hidung.

Kedatangannya ke ruangan Bob Hippy siang itu juga tidak sekedar kunjungan antarkawan. Ada ‘misi terselubung’ yang ingin dijalankan Surya. Ia membawa sekantong pempek sebagai buah tangan. Tapi bukan sekedar buah tangan. Itu caranya mencari uang untuk menyambung hidup. Membawa ‘oleh-oleh’ bagi teman lama seperti Bob, atau Djohar Arifin Husin, atau Tri Goestoro, lalu berharap tiga pejabat PSSI itu paham maksud ‘oleh-oleh’ tersebut.

“Tadi gue beli pempek modal Rp 100 ribu, trus dibayarin Ketum (Djohar Arifin) Rp 200 ribu. Lumayan dapat seratus,” kata Surya menceritakan ‘kesuksesannya’ sambil tersenyum, Kamis malam di pinggir lapangan GBK.

Entah sudah berapa lama ia mencari uang dengan modus seperti itu. Saya tidak enak hati menanyakannya. Karena selagi Djohar Arifin Cs tidak keberatan dan menilai itu sebagai salah satu cara membantu mantan pemain nasional, kenapa saya harus meributkannya?

“Pemain timnas sekarang pada Surya Lesmana gak, Om?” tanya saya, mengisi perbincangan kami malam itu.

“Beberapa ada yang saya kenal, dan mereka juga kenal saya. Seperti Bambang Pamungkas, atau Ponaryo Astaman,” menyebut dua nama pemain senior timnas tersebut.

Gua juga sempat bertemu mereka beberapa waktu lalu,” kata Surya lagi tanpa merinci waktu dan lokasi pertemuan tersebut.

***

Surya kenyang pengalaman di timnas. Sepuluh tahun ia memperkuat tim Merah-Putih (1962-1972). Periode yang cukup panjang bagi seorang pemain bola bermain di level timnas. Tapi dengan segudang pengalaman itu, ia tidak ingin ‘mengemis’ penghormatan dari para pemain sepak bola nasional saat ini. Ia bahkan senang tidak dikenal banyak pesepakbola nasional sekarang.

No! I bukan legenda,” sangkalnya sambil mengibaskan tangan ke arah saya, menunnjukkan ketidaksetujuan.

Saya tertawa dengan responnya itu, lalu pamit untuk mendekat ke lapangan karena latihan Valencia segera dimulai.

Sedangkan Surya, Ia masih terduduk di sana. sambil tersenyum kepada saya dan melambaikan tangan kepada saya.

 

Selamat jalan, legenda!

 

***
Berita Surya Lesmana meninggal dunia dari KOMPAS.COM:

http://bola.kompas.com/read/2012/08/08/17545149/Surya.Jango.Lesmana.Tutup.Usia

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s