Seberapa Sering Kita Harus Membaca?

Seberapa sering kita harus membaca setiap hari? Entahlah. Saya belum menemukan jawaban pasti soal itu. Tapi jika Anda bertanya kepada saya, seberapa sering kita harus membaca setiap hari? “Sesering mungkin!” saya akan menjawab seperti itu.

 

Saya masih (sangat) ingat dengan pesan salah seorang pengajar kuliah yang mengatakan: “Kekayaan objek dipengaruhi oleh kekayaan subjek.” Wejangan itu merujuk kepada bagaimana cara untuk menghasilkan tulisan yang bagus dan “bergizi”.

Maka, pesan itu saya maknai seperti ini: Apa yang saya tulis akan mencerminkan sesering apa saya membaca, atau jenis apa bacaan saya. Jika saya membaca banyak macam buku, tentu akan semakin variatif gaya bertutur atau pemilihan katanya.

Syahdan, saya pun belajar membaca banyak hal: ‘catatan pinggir’ yang tak pernah saya paham maksudnya, atau buku Jeffrey Sachs yang bertahun-tahun tak pernah selesai dibaca. Paling banter baca majalah dewasa di kantor. Tapi tak masalah. Bukankah membaca dimulai dari hal yang kita suka? #alibi

***

Sebut itu semacam malam reuni. Saya berkumpul dengan dua teman semasa kuliah. Banyak hal yang kami perbincangkan, tapi satu momen yang saya ingat: Saat itu seorang teman meminta kami untuk mampir ke blog pribadinya. Saya tak menjawab, tapi permintaan dengan sedikit nada perintah itu ditanggapi teman lain dengan jawaban yang bagi saya mementahkan semangat.

Gue udah liat tulisan sejak pagi, ngedit tulisan banyak. Masih lihat tulisan lagi, udah capek!” kurang lebih begitu jawabnya.

Setiap orang memang berhak berpendapat apa saja. Itu hak pribadi. Tapi tak salah juga jika saya berpendapat, dengan menyebut jawaban itu sedikit picik. Kami bertiga di ruangan dan waktu yang sama saat wejangan itu dikatakan sang dosen. Bagaimana mungkin sang teman lupa akan itu?

Terlebih, teman tadi seorang jurnalis. Pasti ia butuh mengenal banyak hal sebelum menulis. #alibi_lagi

Saya jadi teringat ucapan Gol A Gong, yang pernah saya baca dulu. Intinya, menulis adalah tahapan lanjutan, setelah didahului berpikir, melihat, dan membaca.

Entahlah! Mungkin teman itu sudah membaca terlalu banyak sehingga sudah sampai di titik jenuh. Mungkin!

 

Salam. Selamat hari Jumat!

 

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s