Bepe

Bambang Pamungkas di twitter
Bambang Pamungkas di twitter

Salah seorang rekan uring-uringan ketika tahu bahwa Bambang Pamungkas tidak lagi dikotrak Persija Jakarta untuk kompetisi musim 2013. Dengan keras, bahkan ia menyebut manajemen tim Macan Kemayoran tidak tahu diri, dan sama tidak menghargai pemain yang identik dengan nomor punggung 20 tersebut.

“Harusnya ia diperlakukan seperti Alessandro del Piero ketika meninggalkan Juventus,” katanya menggebu.

Imajinasi saya melambai, membayangkan pemain yang biasa disapa Bepe itu diarak berkeliling Stadion Utama Gelora Bung Karno, dengan syal berwarna oranye melingkar di lehernya (mungkin sambil memeluk boneka macang loreng berwarna oranye), menghampiri setiap sudut tribun yang diisi Jakmania, dan ditingkahi air mata dan senyum haru. Indahnya!

Tapi logika saya segera membantah dengan ketus. “Apa kau yakin itu bisa terealisasi di Indonesia?” katanya.

Wah! Untung juga saya segera disadarkan. Sangat berat membayangkan hal itu bisa terjadi di industri sepak bola Indonesia yang masih kelas UMKM. Apa mungkin, misalnya, Persija akan mengubur selamanya nomor 20 yang biasa dipakai Bambang, sebagai wujud penghargaan, persis seperti yang dilakukan AC Milan terhadap nomor 6 milik Franco Baresi?

“Kau berpikir terlalu jauh untuk soal itu. Orang bola Indonesia kan sentimentil,” ujar logika saya lagi, terus mencecar.

Apa betul? Saya jadi berpikir keras. Oh ya, saya jadi teringat momen di Piala AFF 2012 lalu. Ketika menang mengejutkan atas Singapura, pelatih dan pemain senang tak kepalang. Semua menghampiri tribun selatan Stadion Nasional Bukit Jalil yang dipadati penonton Indonesia. Keluar ruang ganti pun sambil bernyanyi. Kemenangan memang nikmat.

Tapi apa hal ketika kalah saat Malaysia? Semua mogok bicara (kecuali Elie Aiboy) kepada media. Hanya segelintir yang menghampiri suporter di tribun selatan, menunduk, untuk menunjukkan seolah mereka merasa paling yang paling sedih. Mungkin mereka tidak sadar bahwa sebagai warga negara Indonesia juga, penonton tersebut bahkan bisa lebih sedih dari mereka.

Ah, sudahlah! Barangkali mereka memang tidak mengetahui kejadian di luar stadion sebelum pertandingan, ketika beberapa suporter Indonesia digebuki para pendukung tuan rumah.

Mungkin… Ah, sudahlah! Saya terlalu banyak ngelantur.

 

“Meski tidak pernah juara bersama timnas, tapi Bambang itu bisa termasuk ke dalam sepuluh pesepakbola terbaik Asia 2012 versi ESPN, loh,” kata rekan saya tiba-tiba.

Pikiran saya bergolak. “Jangan kau mudah percaya dengan itu,” logika saya kembali merecoki dengan cepat.

Benar juga katanya. Tidak pernah ada sebelumnya seorang pesepakbola yang dipilih sebagai yang terbaik bukan karena pertimbangan teknis di dalam lapangan. Kalau ESPN yang memilih, barangkali Lionel Messi tidak akan bisa empat kali meraih Ballon d’Or, sebagai simbol pemain terbaik dunia. Messi kan cupu! Begitu juga Iniesta! Mana mungkin anak kampung asli Albacete itu bisa beberapa tahun masuk tiga besar pemain terbaik dunia?

“Bambang ada di nomor ke-5, di atas Yuto Nagatomo, loh,” kata teman saya lagi.

Wow! itu luar biasa! Saya kembali dibuat terkejut oleh kemampuan Bambang. Nagatomo kan pernah juara Asia bersama Jepang dan sekarang bermain di Inter Milan? Betapa hebat bisa melebihinya.

“Tapi, Bambang juga bagian dari Inter Milan, loh. Meski baru sebagai penggemar,” kata logika, seolah memburu untuk memojokkan saya. Dari nada bicaranya, ada kesan sinis.

“Tapi ia wakil presiden Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia. Ia memiliki pengaruh besar di kalangan para pemain sepak bola Indonesia, melebihi pengaruh Ponaryo Astaman yang jadi presidennya. Ia mogok main untuk Persija untuk menunjukkan bahwa pemain adalah pemegang peran penting untuk menyelesaikan masalah sepak bola nasional,” jawab saya dengan cepat, membela Bambang.

“Ia mirip Jusuf Kalla, wakil presiden yang tegas dan cekatan jika dibanding atasannya,” kata saya, memberi analogi. Saya tidak ingin kalah dari pikiran saya sendiri.

 

“Tapi, kompetisi masih jalan, tuh!” jawab logika saya enteng, lalu hilang.

Ups! Saya hanya membalas dengan menepok jidat.

 

***

Advertisements

One thought on “Bepe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s