Nil

imagesNilmaizar semak hati malam itu. Status sebagai pelatih kepala tim nasional senior yang diemban kurang dari seumur jagung justru malah bikin runyam. Semua tidak seperti yang diharapkan.

Tadinya, ia berharap mendapat asupan finansial yang lebih baik ketika memegang timnas. Di Semen Padang, tim yang membesarkannya, pria yang biasa disapa Nil itu mendapat bayaran sekitar Rp 50 juta per bulan. Bonusnya, pria asal Payakumbuh, Sumatera Barat itu bisa dekat dengan keluarga yang berada di Padang.

Karena mendapat tanggungjawab lebih besar di timnas serta jauh dari tanah kelahiran, tentu Nil berharap mendapat ganjaran gaji yang lebih besar plus beberapa fasilitas. Katanya, Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia pun telah menjanjikan mobil dan apartemen untuknya. Fasilitas normal, karena ia harus jauh dari keluarga.

Namun apa daya? hingga saat itu apa yang dicita-citakan tak terwujud. Ibarat jauh panggang dari api. Pekerjaan melatih timnas saat itu dijalani dengan berpegang kesepakatan lisan karena kontrak belum ditandatangani. Gaji per bulan pun tidak jelas. Hanya setoran dengan jumlah yang tidak tetap yang diterimanya. Fasilitas yang dijanjikan? Ia hanya tersenyum sinis ketika ditanya soal itu.

Ia mengaku ingin menuntut kepastian kepada pengurus PSSI saat itu. Wajar! Beberapa bulan bekerja, ia merasa tidak dihargai. Ayah dua anak itu pun mengancam mundur dan meninggalkan timnas yang tengah dipersiapkan untuk sebuah turnamen eksebisi di Jakarta.

“Bagaimana jika saya melakukan itu (mundur)?” katanya, meminta saran.

***

Saya menilai Nilmaizar masih mencoba tegar, persis seperti yang coba ia tunjukkan pada pertemuan malam itu. Paling tidak kesan tersebut yang saya tangkap dari pernyataannya kepada media akhir-akhir ini. Ia terlihat mencoba tetap tenang dan berdalih tetap ingin profesional, ketika ditanya pendapatnya soal penunjukkan Luis Manuel Blanco sebagai pelatih kepala oleh Badan Tim Nasional (BTN).

Bahkan ia masih ingin menunggu kepastian dari PSSI soal nasibnya, di tengah kisruh matahari kembar yang ada di pucuk manajerial timnas.

‘Sampai saat ini, belum ada pemberitahuan apa-apa. Saya masih menghormati kontrak yang berakhir April 2014 mendatang,’ katanya lagi.

Nil memang lebih tenang jika dibanding asistennya yang asal Brasil, Fabio Oliveira. Jika Fabio ngoceh ke media soal gaji yang ditunggak selama lima bulan oleh manajemen timnas, Nil lebih kalem dan hati-hati. Entah berusaha menutupi borok tersebut, namun ia masih setia mengabdi ke timnas atas dasar tanggungjawab.

Tapi profesionalisme harusnya berjalan dua arah. Ketika PSSI telah mengangakangi etika dengan mengumumkan Blanco sebagai pelatih timnas saat ia dan rombongan dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Dubai untuk melawan Irak di Kualifikasi Piala Asia 2015, definisi profesionalisme layak digugat.

Syahdan, andaikata saat ini Nil kembali bertanya kepada saya soal langkah yang harus diambil, saya akan menjawab dengan tegas dan cepat. Ia hanya harus menjalankan sikap yang sempat ia pertanyakan kepada saya malam itu, jika tidak ingin dikenang sebagai pelatih lugu.

(AF)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s