Negeri Klinik

Klinik kepelatihan singkat Chelsea di Jakarta beberapa waktu lalu. (foto: Tempo/ Seto Awo)Timo Scheunemann meninggalkan lokasi klinik kepelatihan Chelsea di lapangan hoki Senayan lebih cepat dari seharusnya. Ia pergi, bahkan ketika klinik belum dimulai.

Dari mukanya yang masam dan ayunan kaki yang tergesa, saya simpulkan ia sedang tidak enak hati. Simpulan sementara itu makin dikuatkan dengan sikap ling-lung: Timo bahkan lupa di mana sebelumnya ia memarkir kendaraan.

Ya. Dugaan saya ternyata benar. Seseorang yang dekat dengan Timo mengatakan bahwa mantan pelatih Persema Malang itu marah lantaran anaknya ternyata tidak diizinkan ambil bagian di klinik tersebut.

Agak aneh, mengingat pria Jerman yang fasih berbahasa Jawa itu justru adalah Direktur Teknik Sekolah Sepak bola (SSB) Chelsea Indonesia. Artinya, ia adalah orang kepercayaan dan “perpanjangan tangan” manajemen The Blues di Tanah Air.

Maka, kata seseorang yang dekat dengan Timo tadi, bagaimana mungkin anak sang direktur justru ditolak? Apalagi, sebelumnya ia sudah mengonfirmasi kepada manajemen Chelsea bahwa ia akan membawa sang anak ke klinik.

Jawaban saat itu pun menggembirakan: sang anak diizinkan ambil bagian di klinik. Singkat kata, “terbanglah” sang anak ke Jakarta. Sehari-hari, ia memang menetap di Malang, Jawa Timur.

Tapi sesampai di Jakarta, bukannya mendapat pengalaman bahagia karena dilatih pemain ternama Chelsea seperti Branislav Ivanovic atau Ramires, sang anak justru pulang dengan tanpa hampa.

Ia gagal ambil bagian dan terpaksa pulang ke Malang dengan tanpa cerita apapun soal pengalaman dilatih dua pemain andalan Chelsea itu. Itu pun barangkali akan lebih baik, dibanding jika sang anak malu pergi ke sekolah karena tidak tahu harus beralasan apa ke teman-temannya karena gagal bertemu pemain Chelsea.

“Anak-anak seharusnya tidak boleh menangis karena sepak bola,” kata teman dekat sang pelatih tadi.

Kegagalan anak Timo berpartisipasi di klinik Chelsea adalah risalah sedih sore itu. Tapi semesta selalu seimbang: ada dua hal bertentangan yang datang di waktu bersamaan. Di lain sisi, 45 anak lain -pria dan wanita dari beragam usia- tetap bisa ambil bagian sore itu.

Dengan replika seragam biru kebanggan Chelsea menempel di badan, mereka memainkan bola dengan semangat. Dari air muka mereka, saya simpulkan ada kebahagian di sana.

Para pemain Chelsea pun seperti menikmati klinik. Salah seorang dari mereka, Nathaniel Chalobah bahkan tergelak ketika melihat seorang anak justru memainkan bola dengan tangan kendati salah seorang staf kepelatihan Chelsea berteriak dari kejauhan: meminta agar sang anak menggunakan kakinya. Instruksi yang tentu jelas, karena sore itu adalah klinik sepak bola, bukan klinik bola tangan.

Tapi Chalobah mungkin mahfum. Peserta klinik memang bukan siswa SSB yang telah mengetahui teknik dasar menggiring atau menendang. Mereka yang datang sore itu adalah pemenang kuis yang diadakan Samsung: sponsor utama Chelsea, yang juga pelaksana klinik sore itu.

Kuisnya pun bahkan tidak terkait sepak bola. Para peserta hanya diminta mengirimkan foto mereka tengah menggunakan perangkat elektronik keluaran Samsung. Peserta dengan foto terbaik, atau mungkin terunik menjadi pemenang.

Voila…, dan hadirlah mereka di lapangan hoki Senayan sore itu.

Terkadang, kesempatan memang tidak datang sebagai buah dari kerja keras dan niat yang sungguh-sungguh. Anak Timo, yang sangat bercita-cita menjadi pesepakbola -ia bahkan sudah memimpikan tampil di Piala Danone, festival sepak bola anak-anak terbesar di dunia- gagal ambil bagian sore itu.

Bukan karena ia tidak punya kemampuan sepak bola, tapi karena ia tidak mengirimkan foto dengan gadget Samsung miliknya kepada panitia. Timo dan sang anak “dikalahkan” oleh passion terbesar yang selama ini ada dalam diri mereka: sepak bola.

Satu hal yang barangkali dilupakan Timo. Klinik sore itu adalah wujud sepak bola sebagai industri. Dan layaknya industri, sepak bola tidak lagi sekedar ihwal menendang atau menyundul, lalu tersenyum apapun hasil di ujungnya. Ia jauh lebih kompleks dari itu.

Persis seperti yang diucapkan mantan Manajer Manchester City, Malcolm Alexander Allison beberapa tahun lalu:

Sepak bola profesional tidak lagi sekedar permainan. Ia adalah perang, dan kembali membawa keluar naluri primitif yang pernah ada ribuan tahun lalu…

 

(AF)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s