Il Grande Lippi

Marcello Lippi saat diperkenalkan oleh manajemen Guangzhou Evergrande (foto: Guardian).
Marcello Lippi saat diperkenalkan oleh manajemen Guangzhou Evergrande (foto: Guardian).

Pada Mei tahun lalu, begitu manajemen klub Guangzhou Evergrande menunjuk Marcello Lippi sebagai pelatih pengganti Lee Jang-Soo, para penggemar bertanya-tanya penuh heran.

Kata mereka, untuk apa manajemen klub menghabiskan dana sekitar USD 37 juta atau sekitar Rp 424 miliar demi mengontrak pelatih tua yang seolah sudah kehabisan motivasi akibat kegagalan di Piala Dunia 2010?

Toh, ketika klub ditangani Jang-Soo, prestasi Guangzhou terhitung cukup baik. Pria Korea Selatan itu membawa Guangzhou menjuarai Divisi Dua Liga Cina dan promosi ke Liga Super.

Bahkan, pada musim pertama di kasta teratas kompetisi sepak bola Negeri Tirai Bambu itu, Jang-Soo membawa Guangzhou meraih dua gelar: Liga Super Cina dan Piala Super Cina.

Tapi, sekitar satu setengah tahun setelahnya, para penggemar kemudian bisa memahami keputusan manajemen tersebut.

“Saya paham bahwa Jang-Soo tidak layak dipecat ketika itu. Tapi sekarang saya betul-betul paham bahwa kehadiran Lippi ternyata membawa Guangzhou ke level yang lebih tinggi,” kata Jiang Yi, salah seorang pendukung Guangzhou, memuji Lippi.

Pujian itu disampaikan Yi sebelum laga final kedua Liga Champions Asia melawan FC Seoul di Stadion Guangzhou Tianhe Sport Center, Guangzhou, Sabtu pekan lalu.

Dan, di akhir laga, pujian tidak hanya mengalir dari Yi. Seluruh stadion yang dipadati sekitar 50 ribu penonton itu seolah meledak ketika mereka meneriakkan nama Lippi.

Wajar, karena Guangzhou baru saja meraih gelar Liga Champions Asia pertamanya, dan menjadi klub Cina pertama yang meraih titel turnamen antarklub paling bergengsi di Benua Kuning itu, sejak format baru ditetatpkan pada 2002.

Lippi diangkat para pemain Guangzhou dalam perayaan juara Liga Champions Asia 2013 (foto: Guangzhou Evergrande facebook)
Lippi diangkat para pemain Guangzhou dalam perayaan juara Liga Champions Asia 2013 (foto: Guangzhou Evergrande facebook)

Gelar itu sendiri bukan yang pertama. Total, jika menghitung gelar Liga Champions Asia kali ini, si perokok berat itu telah mempersembahkan empat gelar bagi Guangzhou Evergrande. Tiga gelar lain adalah Liga Super Cina 2012 dan 2013, serta Piala FA Cina 2012.

Lippi bahkan berpeluang meraih gelar kelimanya jika mampu meraih titel Piala FA Cina 2013. Sejauh ini, Zheng Zhi cs telah mencapai semi-final. Itu semua diraih Lippi bahkan dalam kurun kurang dari setengah masa kontraknya, yang berdurasi 2,5 tahun.

Tidak heran, pujian pun menghinggapinya. Salah satunya dari pemain FC Seoul, Dejan Damjanovic, yang menyebut Lippi sebagai faktor utama kesuksesan Guangzhou.

“Semua pemain yang ada di tim Guangzhou saat ini berkembang pesat, seperti soal pemahaman taktik. Kemampuan mereka bertambah dibanding sebelumnya. Guangzhou telah dilatih dengan benar,” kata pemain asal Montenegro itu.

Soal taktik, Guangzhou di bawah asuhan Lippi memang seolah susah ditebak. Ibarat bunglon, taktik mereka terus berganti. Itu pun terlihat di laga final, ketika mereka mengubah formasi dari tiga menjadi empat bek di tengah pertandingan.

“Perubahan bahkan berlangsung dengan sangat mulus dan fleskibel,” tulis AFP, memuji kemampuan adaptasi taktik pemain Guangzhou di tangan Lippi.

Lippi memang menekan anak asuhnya untuk tidak terpaku kepada satu formasi andalan. Bagi Lippi, seperti yang tercantum dalam bukunya A Game of Ideas: Thoughts and Passions from the Sidelines, pilihan taktik bergantung pada kondisi yang ada, semisal stok pemain yang tersedia, dan bukan sebaliknya.

Walhasil, seperti yang ditunjukkan dalam beberapa kesempatan, para pemain Guangzhou saat ini tidak lagi canggung ketika tiba-tiba harus berganti formasi dari 4-3-3, 3-5-2 atau 4-2-3-1.

“Itu (pemahaman taktik yang cepat) adalah level baru dalam sepak bola Asia,” tulis AFP lagi.

Adapun, ESPN menilai Lippi dari sisi berbeda. Katanya, Lippi mampu menepis rasa rendah diri para pemain Guangzhou.

Itu terlihat di dua laga semi-final Liga Champions: ketika Guangzhou bisa menang telak atas 1-4 atas klub Jepang, Kashiwa Resysol di kandang lawan, dan menang 4-0 di kandang sendiri; serta dua laga final melawan FC Seoul.

Padahal, menurut ESPN, mental para pemain Cina selalu jatuh ketika berhadapan dengan tetangga-tetangga mereka itu.

Saking frustasinya, media-media Cina bahkan memperkenalkan istilah “Koreaphobia”: lantaran terlalu sering kalah ketika bertemu.

Fobia itu sekarang berhasil ditepis. Dalam perayaan usai meraih gelar Liga Champions Asia pertamanya, Lippi diangkat para pemainnya. Suporter mengelu-elukan namanya. Harum namanya merebak ke seluruh daratan Cina, menyebut satu nama: Il Grande Lippi. (AF)

 

***

 

 

*Juga dimuat di Koran Tempo Minggu, 17 November 2013, setelah penyesuaian bahasa dan kebutuhan halaman

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s