Pembuktian Orang-orang Terlupakan

Tim Bosnia merayakan kemenangan dalam salah satu pertandingan di Kualifikasi Piala Dunia 2014 (foto: BBC)
Tim Bosnia merayakan kemenangan dalam salah satu pertandingan di Kualifikasi Piala Dunia 2014 (foto: BBC)

Bangku pemain cadangan tim nasional Bosnia-Herzegovina gaduh begitu wasit Felix Zwayer asal Jerman meniup peluit panjang tanda akhir pertandingan di Stadion Darius and Girenas di Kaunas, Lithuania.

Pelatih Sefat Susic melompat kegirangan. Beberapa pemain dan ofisial tim berebut memeluknya, hingga membuat tubuh pria 59 tahun itu berguncangan.

Sebagian lagi berlarian ke tengah lapangan, berteriak kegirangan, dan memeluk siapa pun yang mereka temui.

Di tribun penonton, keriuhan serupa terjadi. Mereka menyalakan kembang api dan merentangkan bendera biru-kuning raksasa yang menutupi hampir seluruh tribun.

Berjarak sekitar 1.800 kilometer dari Kaunas, kemeriahan sama merambat. Tepatnya di Sarajevo, ibu kota Bosnia, semua masyarakat turun ke jalan. Mereka berkonvoi dengan kendaraan, bernyanyi dan menyalakan kembang api. Kesimpulannya: Semua gaduh tak beraturan.

Warga Bosnia merayakan keberhasil lolos ke Piala Dunia 2014 (foto: cyprus-mail)
Warga Bosnia merayakan keberhasil lolos ke Piala Dunia 2014 (foto: cyprus-mail)

Kemenangan atas tuan rumah Lithuania pada Selasa malam waktu setempat memang emosional. Bukan semata perkara kemenangan dengan skor 1-0 atas tuan rumah, tapi jauh lebih besar dari itu.

Bosnia untuk pertama kali lolos ke turnamen level internasional, dan tidak tanggung-tanggung: turnamen itu adalah Piala Dunia, yang digelar di Brasil pada tahun depan.

Bagaimana nanti hasil di Piala Dunia Brasil, bagi masyarakat Bosnia, itu lain soal. Yang penting, sementara mereka semua larut dalam kebahagiaan.

“Pencapaian ini bukan lagi soal sepak bola. Ini adalah luapan perasaan kami: orang-orang yang terlupakan selama ini. Orang-orang dari negara baru yang tidak berpengalaman,” kata Salih Redzic, salah seorang warga yang larut dalam perayaan di jalanan kota Sarajevo.

Warga Bosnia merayakan keberhasilan lolos ke Piala Dunia 2014 (foto: daily mail)
Warga Bosnia merayakan keberhasilan lolos ke Piala Dunia 2014 (foto: daily mail)

Salih mengucapkan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Seperti dikutip dari Straits Times, usai diwawancara, ia pun kembali larut dalam perayaan massal, lalu berteriak dengan sekuat tenaga: “Vamos, Bosnia!“, atau kurang-lebih berarti “Ayo, Bosnia!”.

Negara pecahan Yugoslavia itu memang layak menggelar perayaan besar-besaran semalam suntuk. Pasalnya, mereka menunggu terlalu lama untuk bisa mencicipi turnamen bergengsi internasional.

Bandingkan dengan tetangga sesama pecahan Yugoslavia, semisal, Slovenia atau Kroasia. Kroasia mampu lolos ke Piala Dunia “cukup” tujuh tahun setelah lepas dari Yugoslavia. Adapun, Slovenia meraih tiket ke turnamen internasional pertama pada Piala Eropa 2000, atau sembilan tahun setelah berdiri sendiri.

Bosnia memang terhitung terlambat berkembang dibanding dua negara tersebut. Mereka telat menjadi anggota resmi Asosiasi Federasi Sepak bola Eropa (UEFA) dan Federasi Sepak bola Internasional (FIFA) lantaran disibukkan oleh perang sipil di awal lepas dari Yugoslavia.

Walhasil, tim berjuluk The Dragons atau Sang Naga itu baru bergabung ke FIFA pada 1996 dan UEFA dua tahun setelahnya. Usai resmi menjadi anggota UEFA dan FIFA, barulah mereka mulai serius membina sepak bola.

Namun selama beberapa tahun setelah itu, mereka tetap saja belum berhasil menarik perhatian penggemar sepak bola dunia karena masih berstatus tim “hampir lolos”.

Pada Kualifikasi Piala Dunia 1998, mereka berada di peringkat keempat di klasemen akhir babak kualifikasi. Lalu, pada Kualifikasi Piala Eropa 2000, ketika Slovenia lolos hingga putaran final, Bosnia mentok di peringkat ketiga di klasemen akhir.

Nasib serupa dilanjutkan di Kualifikasi Piala Dunia 2002, Kualifikasi Piala Eropa 2004, Kualifikasi Piala Dunia 2006 dan Kualifikasi Piala Eropa 2008.

Nasib sedikit lebih baik didapat pada Kualifikasi Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012. Masing-masing mereka berada di peringkat kedua di klasemen akhir pada babak kualifikasi dan berhak lolos ke babak play-off. Tapi, dalam dua laga play-off tersebut mereka keok oleh tim yang sama: Portugal.

Usai kegagalan tersebut, Bosnia membaik. Ditopang para pemain inti yang semakin banyak bermain di kompetisi elit Eropa, kualitas timnas ikut terangkat. Perlahan tapi pasti, mereka pun mengungguli Slovenia dan Kroasia.

Tidak heran pada Agustus lalu, FIFA mencatat mereka sebagai tim dengan perkembangan luar biasa di dunia. Pencapaian yang kemudian disaluti Presiden UEFA, Michel Platini.

Kata Platini: “Mereka telah membuat sepak bola berkembang di semua sisi.”

 
***

(AF)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s