Entahlah, Riedl…

Alfred Riedl (foto: Republika)
Alfred Riedl (foto: Republika)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Secara pribadi, La Nyalla pun sepakat apabila Riedl kembali menangani timnas senior. Sebab, Riedl dinilai salah satu pelatih sukses ketika membesut timnas. “Saya pikir Riedl memang yang terbaik,” ujar Wakil Ketua Umum PSSI tersebut…” (Republika; Senin, 18 November 2013)

Entah apa parameter kesuksesan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia, sampai akhirnya kembali memilih Riedl sebagai pelatih kepala tim nasional.

Jika patokannya adalah membawa timnas sebagai peringkat kedua Piala AFF tahun 2010 lalu, bagi saya sedikit naif.

Soalnya, jauh sebelum Riedl mencapai itu, tiga pelatih sudah pernah melakukan hal sama. Nandar Iskandar pada Piala Tiger 2000, Ivan Kolev pada 2002, dan Peter Withe pada 2004.

Lalu, apa kelebihan kakek asal Austria itu sehingga lebih layak mendapat kesempatan kedua?

Karena Kolev sudah mendapatkan kesempatan itu, jadi mari kita pinggirkan. Sekarang hanya tersisa Peter Withe dan Nandar Iskandar yang belum mendapat kesempatan, untuk kemudian diperbandingkan.

Maka, melihat sekilas pun bisa disimpulkan, jika (tetap) ingin ada kesempatan kedua, Withe jauh lebih pantas daripada Riedl. Sebelum melatih tim Merah-Putih, pria Inggris itu dua kali meraih gelar juara AFF bersama Thailand.

Kalau Riedl? Bersama Vietnam dia hanya runner-up pada 1998. Lagi-lagi dia menegaskan titel Mr.Runner-up, ketika kemudian meraih medali perak di Sea Games 1999, 2003, dan 2005.

***

Entahlah…
Tapi mungkin begini kondisinya jika kita menilai pelatih tanpa punya parameter pasti. Memilih berdasarkan “suka-tidak suka” atau “teman-bukan teman”.

Atau mungkin kita meletakkan parameter terlalu rendah. Sampai mematok kesuksesan dari sekedar posisi runner-up.
Entahlah…

Saya tidak meremehkan Riedl. Karena, jika kemudian ternyata dia berhasil membawa Indonesia juara Piala AFF 2014, maka tentu sebagai warga Indonesia, saya (layak) turut berbahagia.

Hanya agak heran. Kenapa PSSI berkeras ingin mengembalikan Riedl ke posisi pelatih timnas?

Atau, kenapa Riedl juga terlihat berkeras ingin kembali ke timnas, bahkan tidak masalah ketika untuk sementara menjadi pelatih timnas abal-abal jelang Piala AFF 2010.

Apa alasannya? Entahlah…

(AF)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s