Jomblo

Korsel di piala dunia 2002. Mereka mencapai babak semi-final. (foto: GettyImage)
Korsel di piala dunia 2002. Mereka mencapai babak semi-final. (foto: GettyImage)

Piala Dunia sudah tiba. “Saatnya orang Indonesia berpesta,” kata seorang teman kepada saya.

“Lah!” Saya kaget tak kepalang. Bagaimana tidak? Pernyataan itu datang dari seseorang yang tak menyukai sepak bola. Ia, teman yang saya kenal sejak sekolah dasar.

Semasa kanak-kanak, ketika saya dan teman-teman lain bermain bola dengan khusyuk, misalnya, ia lebih suka bermain gundu. Lalu, saat beranjak dewasa, ketika saya dan teman-teman lain mulai menonton bola ke stadion atau begadang di depan televisi, ia memilih bermain tenis meja dan tidur.

“Apa sekarang kamu sudah suka menyukai sepak bola?” saya bertanya untuk memastikan.

“Ah, tak harus menggilai sepak bola untuk membicarakan Piala Dunia, bro!” katanya penuh semangat.

Sepekan setelahnya, saya sadar omongan teman tadi ada benarnya. Di kantor, saya mendapati semua orang membicarakan sepak bola –bahkan yang saya tau selama ini tak menggemarinya. Pesta sepak bola dunia itu benar-benar terasa hingga ke Indonesia.

Di ruang rapat, di warung, di tangga, atau di mana saja ada kerumunan, di sana ada obrolan tentang sepak bola. Beragam topik dibicarakan: mulai dari gigitan Suarez sampai analisa dan ulasan sebab kegagalan Spanyol, Inggris, atau Italia di Piala Dunia.

Saya lebih sering diam. Bukan tak ingin bersosialisasi. Tapi, saya ingat sindiran salah seorang rekan lain yang berasal dari Korea Selatan jauh sebelum Piala Dunia dimulai.

Ketika saya berapi-api mengkritik Bayern Muenchen yang hancur lebur oleh Real Madrid di Liga Champions Eropa lalu, ia hanya membalas sinis.

“Kamu seperti orang yang tak punya pacar tapi punya banyak nasehat soal menjaga hubungan,” katanya.

“Maksudnya?”

“Bagaimana orang bisa percaya nasehat kamu? Sedangkan kamu sendiri gagal dalam berhubungan. Nasehat kamu hanya akan menjadi omong kosong.”

Saya diam dan berpikir. Dan, mulai saat itu saya bersumpah. Saya hanya ingin menjadi jomblo yang rendah hati.

(AF)

Advertisements

One thought on “Jomblo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s