Pulang

Ini Uni saya dan kedua anaknya. Bahkan, meski orang rumah secara pribadi memilih Prabowo, tak akan mengubah apapun.
Ini Uni saya dan kedua anaknya. Bahkan, meski orang rumah secara pribadi memilih Prabowo, tak akan mengubah apapun.

Langit di pagi itu seperti samudera yang tenang. Pak Ustad duduk di beranda ketika saya datang. Saya menyapa terlebih dahulu. Ia membalas, lalu kami pun bertukar salam.

Hari itu lebaran. Memang saatnya bermaaf-maafan. Makanya, seusai salat Id, saya sempatkan diri berkunjung ke rumah Pak Ustad. Sekedar menyapa dan ngobrol jika ada bahan perbincangan yang memang suka tiba-tiba muncul saat kami bertemu. Sekaligus numpang makan ketupat.

“Kau tak pulang?” tanya Pak Ustad.

“Enggak, Pak,” saya menjawab singkat.

Obrolan pemecah basa-basi yang baik. Karena setelah itu, Pak Ustad mengajak saya makan ketupat. Namanya anak kos, saya pun makan dengan lahap. Bahkan, saya menambah hingga dua kali. Tapi, ia tak keberatan.

“Tak perlu sedih jika tak mudik saat lebaran. Bukan juga berarti bahwa seseorang tak sayang keluarga,” katanya tiba-tiba, sembari memandangi saya yang melumat ketupat dengan lahap.

“Pada awal menetap di Jakarta, saya bahkan sepuluh tahun tak pulang.”

Saya kaget. Hampir saja saya keselek ketupat yang berpacu masuk tenggorokan. Pasalnya, bagi saya, sepuluh tahun adalah waktu yang cukup lama. Dan, tak pulang dalam kurun waktu itu?? Membayangkan saja saya belum berani.

Pak Ustad nyerocos tanpa henti. Begitu juga saya –yang makan tanpa henti. “Rumah adalah tempat kau merasa tenang. Sejauh apapun dan selama apapun kau tak pulang, maknanya akan tetap sama karena kau memaknainya menggunakan hati,” katanya lagi.

“Betul, Pak!” saya menjawab sekenanya dengan suara seperti orang berkumur-kumur. Mulut saya memang tengah penuh ketupat.

“Manusia kan terlahir dan mati sendirian. Untuk apa kau risau berlebaran sendirian? Kesendirian memberikan ruang bagi kau untuk merenung dan bersyukur atas apa yang kau miliki.”

Ah, Pak Ustad yang sentimentil. Saya mengucapkan itu dalam hati, lalu pamit pulang dengan perut kekenyangan untuk bersiap-siap tidur siang.

Saat telentang di kasur saya mulai mencerna kebenaran obrolan dia. Pulang, sejatinya, memang bisa dilakukan kapan saja. Tak harus menunggu lebaran. Pulang mendekati lebaran atawa mudik hanya kebiasaan tahunan dengan memanfaatkan momentum lebaran.

Momentum memang penting, tapi tak segalanya. Persis seperti yang diucapkan salah seorang editor di kantor kepada saya: “Cantelan dan momentum peristiwa di suatu tulisan itu memang penting. Tapi ia bisa gugur jika kau punya ekslusivitas.”

Nah, saya lebih memilih ini!!!

 

(AF)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s