19

Timnas U-19 gagal di Piala Asia U-19. (foto: bisnis.com)
Timnas U-19 gagal di Piala Asia U-19. (foto: bisnis.com)

Saya masih mengingat jelas wajah Stadion Utama Gelora Bung Karno pada sebuah akhir pekan di Oktober tahun lalu. Sorak-sorai bertebaran di lapangan. Di tribun, tak satupun muka yang luput disapu senyuman.

Hari itu, sebuah pesta sumir memang baru saja tergelar. Tim nasional Indonesia U-19 mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-2 di pertandingan terakhir fase kualifikasi Piala Asia U-19.

Ya, Korea Selatan! Negara kuat sepak bola Asia selama ini. Meski hanya di turnamen kelompok umur, sangat jarang kita menutup laga dengan senyuman terpacak di muka. Tak mengherankan, sore itu penggemar sepak bola Indonesia bersukaria.

Dalam keterangan seusai pertandingan, pelatih Indra Sjafrie –entah gimana penulisan nama yang benar– seperti sekuat tenaga menahan keharuan. Ia tak banyak tersenyum, tapi saya tahu hatinya tengah berbunga-bunga.

“Saatnya Indonesia menjadi Macan Asia,” ujarnya dengan tegas. Sama sekali tak tersirat keraguan.

Ucapan ini disambut hangat para wartawan dan orang-orang yang berada di ruangan. Hampir semua bertepuk tangan dan berteriak. Ia berhasil menularkan kebanggaan sama kepada orang-orang yang ada di ruangan.

Tapi entah kenapa, saya refleks tertawa. Bukan tertawa bangga. Hati saya memaknainya sebagai tawa sinis.

***

Saya adalah salah seorang yang berbahagia saat Indonesia gagal di Piala Asia U-19 lalu. Catatannya pun bikin saya sumringah: selalu kalah di tiga pertandingan dari Uzbekistan, Australia, dan Uni Emirat Arab.

“Lu boleh gak suka dengan PSSI, tapi soal timnas, lu harus tetap dukung! Ini soal nasionalisme!” kata seorang teman.

Ini bukan perkara nasionalisme. Berulang kali saya bilang hal ini untuk menjawab semacam pertanyaan tadi. Bagi saya, timnas adalah semacam subsistem dari sebuah sistem yang lebih besar yang bernama PSSI. Baiknya timnas adalah baiknya pengelolaan induk organisasi. Nah, apa yang sudah dilakukan PSSI dalam pembinaan usia muda?

Saya menarik dukungan untuk tim U-19 tak lama setelah mereka menjuarai Piala Federasi Sepak bola Asia Tenggara (AFF), sekitar sebulan sebelum fase kualifikasi Piala Asia dimulai. Saat itu sorotan media kepada Indra Sjafrie dan Evan Dimas cs sudah sangat besar, bahkan cenderung berlebihan.

Secara pribadi, saya risih. Saya belum pernah menemukan sorotan berlebih kepada timnas kelompok umur. Bahkan, Nigeria yang juara Piala Dunia U-17 lebih kalem. Karena pada dasarnya, sepak bola suatu negara hanya dihitung lewat pencapaian timnas senior yang merupakan muara sungai-sungai kelompok umur.

Semakin muak karena PSSI sangat berlebihan soal tim ini. Menggelar beragam tur –entah itu Nusantara, Timur Tengah, atau Eropa. Semua ditayangkan televisi. Bahkan mengubah partisipasi tim demi kepentingan televisi. Pengurus pun rajin pamer wajah.

Saya maklum, karena timnas U-19 adalah dagangan yang paling laku yang bisa dijual dan menarik banyak sponsor. Maka, ketika ada sebuah sponsor yang menyematkan ‘Generasi Emas’, saya hanya bisa mengangkat alis. Kebodohan apalagi yang baru saja dilakukan, setelah serangkaian keyakinan –yang justru terlihat sebagai sikap jemawa– Indonesia akan bermain di Piala Dunia U-20?

Maka, saya ucapkan: selamat kembali menginjak bumi, kawan. Kepada Indra Sjafrie dan segenap anggota tim. Pernyataan siap dipecat sesungguhnya tak menyelesaikan masalah.

Masalah hanya selesai jika PSSI mulai serius mengurusi sepak bola. Punya kompetisi usia muda yang teratur dan tak sekedar mengandalkan seleksi terbuka atau blusukan.

Ayolah, sekedar blusukan tidak kelarin masalah…

(AF)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s