Nasib Banal Nelayan Tradisional

IMG_0817
Suhali, nelayan tradisional di Muara Angke.

Suhali bergerak lincah di atas perahu kayu sepanjang tiga meter miliknya. Tangannya cekatan menurunkan jaring yang tertumpuk di badan perahu ke laut melalui sisi kanan.

Sesekali, pria 58 tahun itu memainkan kemudi di bagian belakang atau menaik-turunkan mesin –yang lebih menyerupai mesin pemotong rumput– di sisi kiri perahu.

“Buat ngatur (laju) kapal. Biar jaring enggak menumpuk,” kata Suhali, Sabtu, 9 April lalu.

Petang itu, ombak di Teluk Jakarta berwajah ramah. Riak-riaknya hanya membuat perahu Suhali bergoyang pelan.

Menengok ke arah laut luas, warna jingga samar-samar mulai tampak di kaki langit. Sebaliknya, tatkala melihat ke daratan, awan gelap berarak rendah. Beberapa kali pula terlihat kilat menyembul dari kumpulan awan hitam. Tapi tak tampak rasa gentar di wajah Suhali, lelaki yang sudah lebih dari 30 tahun menjadi nelayan tersebut.

“Yang bahaya itu kalau gelapnya di sana,” ujarnya menunjuk ke arah lautan, lalu menambahkan, “Badai!”

“Tenang! Sebentar lagi kita kembali ke daratan,” ia menambahkan, seperti mencoba menenangkan saya yang ikut menemani dirinya menebar jaring pada hari itu.

Hari itu, Suhali memang layak berharap lebih. Musababnya, ia sudah tiga hari tak turun ke laut lantaran berpartisipasi dalam beberapa demonstrasi menolak proyek reklamasi Teluk Jakarta.

Bersama rekan-rekannya di Serikat Nelayan Tradisional, ia memang gencar menolak rencana tersebut. “Karena proyek ini jelas-jelas tak berpihak kepada nelayan tradisional seperti saya,” katanya.

“Kami yang paling menderita akibat reklamasi ini.”

IMG_0782
Suhali, nelayan tradisional di Muara Angke, menunjukkan surat keberatan Serikat Nelayan terhadap reklamasi Teluk Jakarta.

Penderitaan itu, terang Suhali, tercermin dari merosotnya jumlah tangkapan ikan sejak reklamasi dimulai, khususnya setelah proyek Pulau F dan G berjalan. Kedua pulau buatan itu berjarak sekitar 300 meter dari daratan Muara Angke, Kelurahan Pluit, kawasan tempat tinggal Suhali.

Sebelum reklamasi dimulai, Suhali mengatakan bisa mendapatkan 10-20 kilogram ikan setiap harinya. Setiap kilogram itu kemudian ia jual kepada pengepul seharga Rp10-25 ribu, tergantung jenis ikan yang terjaring. Kembung adalah salah satu jenis termahal.

Namun sejak reklamasi berjalan, pendapatan yang sebenarnya tak seberapa itu pun berubah menjadi semacam cerita masa lalu yang sulit diulang. Sebelum libur melaut tiga hari lalu saja, misalnya, lelaki asal Indramayu, Jawa Barat, itu hanya mampu mengumpulkan 7 kilogram ikan. Itupun akumulasi tangkapan tiga hari sebelumnya.

“Akhirnya, saya terpaksa meminjam uang Rp250 ribu kepada kenalan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” kata Ayah dari delapan anak ini lagi.

Dengan perahu kayu miliknya, Suhali mengaku hanya bisa melaut maksimal sejauh 1 kilometer dari daratan. Hanya saja, kawasan itu kini mulai dijejali pulau-pulau buatan.

“(Perahu) Enggak kuat ombak,” katanya beralasan, saat saya bertanya kenapa ia tak melaut lebih jauh. Praktis, lokasi pencarian ikan semakin menyempit.

Pada Jumat itu, ia menebar jala di jarak sekitar 200 meter dari pantai. Dari titik ini, aktivitas di pulau-pulau buatan dapat terlihat jelas. Di daratan pulau, alat-alat berat tampak mondar-mandir. Beberapa kapal terparkir di sekelilingnya. Sekian meter di sisi luar kapal, pelampung oranye sebesar mesin ATM terombang-ambing ombak.

“Itu batas mendekati pulau,” ujar Suhali.

***

“Tuh!” ujar Suhali tiba-tiba, sembari menunjuk ke sebuah kapal di salah satu sisi pulau reklamasi. “Kapal maju-mundur yang berbahaya.”

Kapal yang ditunjuk Suhali itu sejatinya adalah sebuah kapal pengisap pasir yang bekerja membantu proyek reklamasi. Tugasnya, antara lain, menyedot lumpur di dasar laut sehingga pasir dalam kondisi bersih bisa disemprotkan ke daratan pulau.

Tapi bagi Suhali, kapal itu hanya sumber kemudaratan. Dua kali jaringnya tersedot kapal tersebut. “Sampai sekarang enggak diganti,” katanya lagi.

Aktivitas kapal ini juga yang disebut Suhali membuat air laut menjadi keruh sehingga ikan-ikan kabur. Keluhan sama meluncur dari mulut beberapa nelayan lain yang saya temui.

***

Kami mencapai daratan ketika rinai hujan mulai turun di kawasan Muara Angke. Ia bergegas mengikat perahu ke pancang.

Seekor kucing mengeong tak jauh dari sandaran perahu. “Enggak ada ikan,” kata Suhali, berkata ke arah sang kucing. Kucing itu adalah peliharaannya, yang biasa dipanggil dengan nama Ncek.

“Dia selalu menunggu kalau saya pulang melaut. Kadang-kadang, dia ikut saya memasang jaring.”

IMG_0812
Ncek, kucing peliharaan Suhali.

Di dalam rumah, istri Suhali menyambut kami. Saya menyalaminya sembari berpamitan.

“Kapan diangkat, Pak?”

“Dua jam lagi.”

“Mudah-mudahan banyak ikan.”

“Doakan saja. Mudah-mudahan nanti banyak yang terjaring.”

Kami bersalaman. Di luar, hujan turun kian deras. Saya berlalu lekas-lekas.

 

 

 

(AF)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s