Bajakan

Membayangkan Indonesia tanpa barang bajakan itu, ibarat pengen liat sapi kawin sama monyet. Yaa, sudah beda jenis, jadi susah juga untuk bayanginnya.

Tapi, maksud saya menulis analogi itu bukan karena pengen bahas sapi dan monyet loh. Pegimana misalnya cara ngawinin mereka, atau mikirin gimana entar anaknya… Bukan…!! Saya tidak ingin bahas soal itu.

Intinya, yang ingin saya sampein di tulisan ini adalah soal barang bajakan. Artinya, begitu susah melihat itu bisa terjadi, karena orang Indonesia sudah sangat terbiasa menggunakan barang bajakan, imitasi, palsu, atau apalah namanya. Silahkan sebut sesuai keinginan kalian masing-masing.

Ini pertanyaan dasar saya: Pernah gak sih kalian nemuin barang bajakan di indonesia? Pasti pernah lah ya… Bahkan saking “kreatif” si pembajak, kadang ada rupa barang yg melenceng jauh dari konsep aslinya. Pernah liat Louis Vuitton (koreksi jika penulisan brand saya ini salah) bikin baju kerudung? Saya pernah! Dan saya jadi bertanya, apa benar LV pernah bikin itu?? Entahlah. Tapi mohon koreksi saya jika barang itu pernah resmi ada.

Atau pernah liat mbak-mbak di angkot nenteng Hermes?? Maaf bukan melecehkan. Tapi jika ia punya Hermes, buat apa si mbak itu masih naik angkot??

Nah. Dari beberapa pengalaman tadi, saya menarik simpulan: pembajakan sudah sangat erat menjerat Indonesia. Bahkan ada yang menggantungkan hidup dari pembajakan tersebut. Produsen barang bajakan? Ya, saya tidak punya data seberapa besar keuntungan yang pernah didapat, tapi ketika barangnya tak pernah habis: artinya bajak-membajak sudah berkembang jadi industri di negara ini.

Sisi pengguna? Saya rasa ada terbersit kebanggaan dari para pengguna bajakan. Kalau tidak, kenapa harus dipakai toh?

Artinya, ada keuntungan dan kebutuhan di hal bajak-membajak itu. Baik bagi si penjual, pengguna, atau juga pihak lain yang memanfaatkannya.

Agar menjadi lebih dekat, saya coba bawa ihwal bajak-membajak ini ke sepak bola nasional. Akhir-akhir ini.. Eh, gak akhir-akhir juga sih. Sudah lama. Ada suatu komite yang tiba-tiba menyeruak, lalu berkoar: kami adalah penyelamat sepak bola indonesia. Menyelamatkan sepak bola dari keterpurukan. Membangkitkan prestasi timnas yangg pernah lolos ke Piala Dunia 1938. (Ups, apa memang benar ya kita pernah ada di sana?)

Makanya, dibuatlah tim nasional dan dijual kepada publik. Kualitasnya disebut nomor satu dan bisa membuat Indonesia jadi market leader untuk regional Asia Tenggara. Tapi sayang, ternyata barang yang mau diekspor ternyata catut produk yang sudah ada. Sudah pula terdaftar di badan hukum sepak bola Asia Tenggara dan Asia. Badan hukum sudah jelas dan rinci sebut bahwa produk si komite tidak sah. Tapi, si pembajak itu gak ikutin instruksi dan ketetapan hukum yang sudah ada. Membangkang dan terus cari celah. Apa pasal?

Nah, jika dicantel dengan pembahasan pertama saya tadi, ada kepentingan dan keuntungan untuk si produsen barang bajakan itu. Untungnya? Ya, gak tau lah. Saya gak bahas leih lanjut, yang jelas ada hal yang didapat.

Lalu, yang jadi pembahasan selanjutya adalah, kenapa itu si produsen timnas bajakan masih ‘keukeuh’ meski telah kalah di legalitas jualan timnas?

Karena ada massanya. Ada orang-orang yang memuja mereka dan bangga dengan timnas bajakan itu. Kalau gak percaya silahkan masuk ke forum diskusi penggemar bola, atau pantengin komentar pembaca di portal olahraga.

Di sana. Semua perdebatan pasti berlangsung seru dan membuat tegang urat. Beragam opini dan pendapat dilempar. Semua adalah paling awas, benar dan legal.

Tapi hal yang membuat saya menjadi heran kemudian adalah, kenapa orang di forum diskusi sepak bola itu begitu peduli dan rela bersitegang urat soal bajak-membajak timnas? Kenapa tak bisa santai saja dan menanggapi dengan biasa?

Toh selama ini, kita: bangsa Indonesia, telah akrab dengan pembajakan di banyak hal. Bahkan permisif terhadap itu, kan?

Kenapa kita tak menepi saja sambil menyeruput kopi? Dan melihat orang berlalu-lalang. Lalu tertawa sinis saat ada di antaranya yg berjalan pongah atau sesumbar soal barang bajakannya..

 

 

Yap! Selamat hari Senin, kawan…

 

Advertisements

2 thoughts on “Bajakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s