Menakar Derita di Kampung Apung

Plang cokelat setinggi tiga meter yang berdiri di pinggir jalan menjadi petunjuk menuju kampung itu. Di seberang plang, gang selebar satu meter yang berada di antara warung kelontong dan rumah menjadi akses keluar masuk kampung. Satu dari dua akses yang biasa dilalui warga.

Di sanalah lokasi Kampung Apung, kampung yang menurut warga selalu direndam air sejak sekitar lima belas tahun silam. Meskipun cukup tersembunyi, kampung seluas empat hektar itu familiar dan menjadi magnet bagi masyarakat Jakarta.

“Sudah banyak yang datang, berkunjung ke sini. Ada siswa SMA, mahasiswa praktek, media atau LSM. Karena itu, Pemkot Jakarta Barat sampai membuat plang petunjuk di depan,” kata Rudi Suwandi (41), Ketua RT 10 RW 01 Kampung Apung, Kapuk, kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat saat ditemui di rumahnya, Rabu, 25 Mei 2011.

Kampung itu sendiri, menurut Rudi, pada awalnya bernama Kapuk Teko. Namun sekitar tahun 2000-an, wilayah itu kemudian dikenal sebagai Kampung Apung. “Mungkin merujuk pada kampung yang selalu digenangi air, seolah-olah terapung makanya disebut kampung apung,” ujar Rudi sambil tertawa.

Proses tergenangnya kampung yang berpenduduk 426 jiwa dari 118 kepala keluarga itu, kata Rudi, sangat panjang dan lama. Pada dekade 60-an, rumah-rumah di kampung itu masih ‘menginjak’ tanah. Hingga akhirnya pada 1996, saat banjir besar datang air yang masuk ke kampung itu tidak ‘keluar’ lagi.

“Saat itu hanya sekitar 15-20 cm, tapi tidak surut lagi. Tetap tergenang, bahkan semakin tinggi hingga sekarang,” kata dia.

Rudi mencatat, pertambahan ketinggian air sejak 1996 hingga 2011 ini sudah mencapai dua meter. Akibatnya, rumah-rumah yang dibangun sejak lama ada yang terendam air hingga atap. “Belum lagi disebabkan jenis tanah di sini yang labil, akibatnya pondasi rumah semakin terbenam. Lihat saja rumah itu, tadinya tinggi tapi sekarang terendam. Keliatan atapnya saja,” kata Rudi menunjuk satu rumah.

Ji’i (47), salah seorang penduduk mengatakan, warga Kampung Apung bukannya tidak melawan keadaan itu. Berkali-kali warga meninggikan rumah mereka, berpacu dengan air yang terus bertambah ketinggiannya hampir setiap tahun. “Saya sudah tiga kali meninggikan rumah tapi selalu terendam,” kata Ji’I.

Rudi melanjutkan, selain ‘perang’ dengan genangan air, warga sekitar juga berhadapan dengan lawan tak kalah membahayakannya, yaitu sampah. Bahkan, sebelum 2007, jelas Rudi, kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan sangat rendah. “Mungkin warga berpikir karena sampah berserakan, mereka akhirnya membuang sampah seenaknya. Sempat mewabah diare. Tapi sekarang bersyukur kebiasaan itu sudah berkurang,” kata Rudi.

‘Akrab’ dengan genangan itu jugalah, kata Rudi, yang membuat warga kemudian berinisitif beternak lele. “Daripada titik genangan itu dipake warga untuk membuang sampah, maka dibuat kolam lele. Lebih menguntungkan juga,” kata Rudi sambil tersenyum.

Terkait rencana Suku Dinas Pekerjaan Umum Jakarta Barat yang akan membangun pompa di kampung itu, Rudi menyambut dengan antusias. Namun, ia pesimis pembangunan pompa itu akan mampu mengeringkan air di kampung itu. “Saya tidak yakin sampai kering, soalnya dari Kali Angke yang hanya 500 meter dari sini ada saluran air langsung. Jadi, setelah disedot keluar pasti akan masuk lagi. Kalau untuk mengurangi sih mungkin bisa,” ujar Rudi.

Meskipun begitu, Rudi dan warga kampung lainnya menolak jika mereka akan direlokasi ke daerah lainnya. Suyati (49), salah seorang warga mengaku tidak mau pindah dari lokasi itu meskipun ditawarkan tempat baru. Ia berdalih, sudah tinggal di kampung tersebut sejak lama.

“Saya pribadi juga tidak ingin pindah. Ini tanah adat dan saya sudah di sini sejak lahir. Pemerintah Kota Jakarta Barat pernah menawarkan relokasi, tapi saya tolak. Warga lain yang saya tanya juga mengatakan hal sama,” kata Rudi.

Ia pun menolak jika disebut menderita tinggal di kampung itu. Baginya, kecintaan terhadap tempat kelahiran mampu memberikan semangat dan kekuatan untuk ‘berperang’ dengan air.

“Bagi orang mungkin menderita, tapi bagi saya tidak,” kata dia dengan tegas.

Advertisements

One thought on “Menakar Derita di Kampung Apung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s