Sumo di Jakarta

Pegulat sumo profesional berhadapan dengan pegulat anak-anak, di laga ekshibisi Turnamen Sumo Jakarta 2013.
Pegulat sumo profesional berhadapan dengan pegulat anak-anak, di laga ekshibisi Turnamen Sumo Jakarta 2013.

Kisenosato… Kisenosato… Kisenosato…,”

Teriakan itu bergemuruh di sisi selatan tribun Istora Senayan pada Ahad sore, 24 Agustus 2013.

Baru saja terjadi kejuatan. Pegulat sumo level Ozeki, atau strata kedua di sumo profesional Jepang menjuarai hari pertama Turnamen Sumo Jakarta 2013. Dan, Kisenosato ialah pegulat tersebut.

Lawan yang dikalahkannya di final pun terhitung bukan pegulat sumo sembarangan. Sang lawan: Harumafuji, adalah satu dari dua pegulat yang berada di level Yokozuna, atau strata tertinggi dalam sumo profesional Jepang. Sederhananya, Harumafuji ibarat juara dunia dalam sumo profesional.

Tapi di laga final sore itu, Kisenosato yang mengenakan mawashi atau pakaian sumo berwarna merah, tampil luar biasa. Jangan tertipu penampilan fisik: badannya yang tambun dengan perut yang menggembung akibat mawashi yang ketat melilit pinggang, akan membuat pria 27 tahun menjadi seorang pegulat yang lamban.

Sebaliknya ia justru gesit. Tidak hanya itu, kuda-kuda dan dorongan tangannya sangat kuat. Dengan teknik andalan oshidashi, atau dorongan tangan secara konstan yang frontal diarahkan ke badan lawan, ia mengalahkan Harumafuji di fiinal.

Teknik serupa yang juga membuat pegulat elit Jepang lain, Hakuho kalah di semi-final. Hakuho sendiri adalah pegulat level Yokozuna, seperti halnya Harumafuji.

Kejutan seperti yang dihadirkan Kisenosato itu memang diharapkan semua yang hadir di Istora saat itu: baik mereka yang benar-benar menyukai sumo, atau justru baru mengenal olahraga tradisional Jepang tersebut.

Maka, semua merasa puas. “Sudah lama saya tidak menonton langsung pertandingan sumo. Dan akhirnya saya bisa kembali menyaksikannya. Saya sangat senang, karena yang datang juga pegulat sumo hebat,” kata Haruo, salah seorang penonton berkebangsaan Jepang yang hadir sore itu.

Pria yang bekerja di Jakarta sejak sekitar setahun lalu itu hadir bersama rekan-rekannya. Tidak semua dari mereka adalah warga negara Jepang. Ada juga warga negara Indonesia. Semua membaur dan bersahabat dengan bahagia.

Jika penonton puas, begitu pula sang punya hajat. Apa yang ditunjukkan Haruo beserta teman-temannya itu memang menjadi tujuan Yoshida Takuji, Ketua Pelaksana Turnamen Sumo Jakarta.

Dalam keterangannya sebelum turnamen dimulai, ia mengatakan bahwa turnamen kali ini memang digelar untuk mempererat hubungan antara Indonesia dan Jepang.

“Tahun ini tepat perayaan 55 tahun persahabatan Jepang dan Indonesia. Sudah lama kita menjalin hubungan erat, dan bertepatan dengan momen ini kami membawa sumo ke Indonesia,” kata Yoshida.

“Indonesia adalah negara Asia Tenggara pertama yang pernah menggelar turnamen sumo.”

Di luar tujuan diplomasi, sebagai industri sumo memang tengah getol mempromosikan diri ke dunia internasional. Jauh sebelum ke Indonesia, Asosiasi Sumo Jepang pernah menggelar turnamen serupa di Amerika Serikat. Dan saat itu sambutan dari penonton pun dinilai luar biasa.

Walhasil, para pegulat pun antusias. Mereka ingin memberi tontonan bermutu kepada para penggamar. Bagi mereka, ada kebanggaan jika sumo sebagai olahraga tradisional Jepang bisa dikenal oleh warga dunia.

“Tentu kami semua akan tampil sungguh-sungguh di Jakarta. Ini adalah kali pertama sumo diselenggarakan di sini, dan saya percaya kalian senang menyaksikan kami,” kata Hakuho.

Karena berbalut promosi, tentu acara turnamen sumo di Jakarta tidak semata diisi pertandingan antarpegulat. Ada hiburan yang diselipkan. Sebelum turnamen dimulai, beberapa laga ekshibisi digelar untuk menghibur penonton, seperti pertandingan antara pegulat profesional melawan anak-anak, atau ketika dua pegulat profesional bertarung tapi diselingi humor. Sontak, dua ekshibisi itu melecut tawa penonton.

Begitu cara sumo mengemas diri. Dari awalnya rangkaian prosesi keagamaan ratusan tahun lalu, kini berkembang menjadi tontonan yang bisa dinikmati seluruh dunia.

Sumo dipercaya akan menjadi besar, meski sejauh ini belum mampu menembus Olimpiade. Itu yang diyakini Koto Eko, salah seorang pegulat junior yang hadir di Jakarta. Ia percaya sumo profesional Jepang mampu menghidupinya.

Pada usia yang baru menginjak 21 tahun, sekarang ia memang masih berstatus “anak bawang”. Namun ia optimis terus berkembang. “Kali ini saya memang tidak ikut bertanding di Jakarta. Saya hanya menemani para profesional. Tapi saya pasti bisa lebih baik,” kata pria yang belajar sumo sejak umur tujuh tahun tersebut.

“Karena saya ingin seperti kakek saya, yang juga seorang pesumo.”

(AF)

 

*Dimuat di Koran Tempo Minggu, 25 Agustus 2013. Tulisan ini adalah versi asli tanpa edit untuk kebutuhan halaman atau etika tulisan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s